image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Serangkaian Bencana Nusantara Akibat Tabrakan Tuah Kalacakra dengan Energi Tumbal

image

Menangkap Signal Ghaib Dalam Serangkaian Bencana Nusantara Akibat Tabrakan Tuah Kalacakra dengan Energi Negatif Tumbal Lain

Nusantara (Indonesia, red) ditimpa beberapa musibah bencana alam sepanjang tahun 2018 bahkan berlanjut di 2019. Apa yang sebenarnya terjadi, benarkah "tumbal" Nusantara yang ditanam leluhur perlu dilakukan pembaharuan? Berikut telisik Pangeran Sukma Jati, spiritualis yang memiliki kemampuan ahli aura gaib.

LETAK geografis Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan dikelilingi oleh lautan membuat negeri ini berpotensi dihantam banyak bencana alam. Terhitung sejak awal tahun 2018, terjadi sejumlah bencana alam dengan dampak besar yang melanda beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan, belum reda hingga memasuki Minggu ketiga awal tahun 2019.
Berikut beberapa bencana alam yang melanda Indonesia selama tahun 2018:

1. Gempa di Lebak Banten – Januari. 
Dikutip dari Kompas.com (grup TribunJatim.com), gempa bumi dengan kekuatan 6.1 SR terjadi di barat daya Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (23/1/2018). Gempa bumi tersebut menyebabkan kerusakan yang cukup besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (26/1/2018), menyatakan sebanyak 2.760 rumah rusak akibat gempa tersebut. Sebanyak  2.760 unit rumah rusak itu rinciannya 291 rumah rusak berat (RB), 575 rusak sedang (RS), dan 1.894 rusak ringan (RR). Selain itu juga terdapat kerusakan bangunan lainnya meliputi 7 unit fasilitas peribadatan, 2 unit fasilitas kesehatan, 17 unit fasilitas pendidikan, 6 unit kantor atau gedung pemerintahan, dan 63 unit fasilitas umum. BNPB menaksir kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.
Selain menimbulkan kerusakan materi, gempa ini juga menyebabkan 1 orang tewas. Korban bernama Nana Karyana (40), meninggal karena serangan jantung, yang mana saat gempa korban sedang memperbaiki atap genteng rumah.

2. Longsor di Brebes - Februari
Dikutip dari Kompas.com (grup TribunJatim.com), sebanyak lima orang meninggal dalam bencana longsor yang menimpa petani di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Data tersebut disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho berdasarkan laporan dari Bupati Brebes yang berada di lokasi longsor, Kamis (22/2/2018) sekitar pukul 14.30 WIB. Bencana alam ini juga mengakibatkan 15 orang hilang dan 14 orang terluka. Diketahui, lokasi longsor di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, termasuk kategori zona rawan sedang hingga tinggi longsor. Pusat longsor dari perbukitan di hutan produksi Perhutani BKPB Salem Petak 26 PlRPH Babakan, longsor kemudian menimbun sawah di bagian bawah. Kurang lebih, luas longsor mencapai 16,8 hektar, dengan panjang longsoran dari mahkota longsor sampai titik terakhir sekitar 1 kilometer. "Lebar longsor di atas yang mahkota longsor 120 meter, sementara lebar bagian bawah 240 meter dengan ketebalan 5-20 meter perkiraan 1,5 juta meter kubik," kata Sutopo.

3. Gunung Sinabung - April. Dikutip dari Kompas.com (grup TribunJatim.com), setelah beberapa waktu mengalami penurunan aktifitas vulkanik, Jumat (6/4/2018) petang, gunung Sinabung kembali meletus dengan tinggi kolom abu lebih dari 5.000 meter. Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) dan Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung melaporkan, terjadi luncuran awan panas sejauh 3.500 meter ke arah ke tenggara dan selatan.
"Terekam di seismik gempa erupsi terjadi mulai pukul 16:07 sampai 18:00 WIB, dan masih berlanjut," kata Kepala Pemantau Gunung Api (PGA) Sinabung, Armen Putra, Jumat (6/4/2018).
“Kesimpulannya, tingkat aktivitas Gunung Sinabung masih di level IV atau Awas."
Armen kembali mengingatkan agar masyarakat dan pengunjung tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, letusan melontarkan abu vulkanik dan material piroklastik dengan tekanan kuat berwarna abu-abu gelap disertai awan panas.
Hingga kini tidak ada korban jiwa karena di daerah zona berbahaya sudah kosong dari aktivitas masyarakat. "Masyarakat yang berada di zona merah sudah mengungsi sejak lama dan sebagian sudah direlokasi. Aktivitas vulkanik tetap tinggi dan berpotensi terjadi letusan susulan," kata Sutopo, Jumat (6/4/2018).

4. Gempa Lombok – Agustus
Dikutip dari Kompas.com (grup TribunJatim.com), gempa berkekuatan 7.0 SR mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (5/8/2018).
Gempa tersebut terjadi sekitar pukul  18:46:35 WIB. Titik gempa berada di 8.37 Lintang Selatan - 116.48 Bujur Timur tepatnya 18 kilometer barat laut Lombok Timur, NTB dengan kedalaman 15 kilometer. Melalui laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofiska (BMKG) dijelaskan jika gempa tersebut diprediksi memicu tsunami.
Korban meninggal dunia akibat rangkaian gempa yang mengguncang Lombok pada Agustus 2018, tercatat mencapai 564 orang. Selain itu, BNPB mencatat terdapat 42.239 rumah dan 458 unit sekolah yang mengalami kerusakan.
Keterangan dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, disebutkan jika korban meninggal dunia paling banyak berasal dari Kabupaten Lombok Utara, yaitu 467 orang. "Jumlah korban jiwa meninggal dunia sebanyak 564 orang dengan rincian, yaitu Kabupaten Lombok Utara sebanyak 467 orang, Kabupaten Lombok Barat sebanyak 44 orang, dan Kabupaten Lombok Timur sebanyak 31 orang," ujar Sutopo, melalui siaran pers, Senin (1/9/2018).
Selain itu, sebanyak  2 korban berada di Kabupaten Lombok Tengah, 9 korban berada di Kota Mataram, 6 orang di Kabupaten Sumbawa, dan 5 korban di Kabupaten Sumbawa Barat.
Sutopo juga menyebutkan ada 1.584 korban luka-luka yang tersebar di beberapa tempat. Daerah dengan korban luka-luka terbanyak berada di Lombok Utara dengan jumlah 829 orang.
Sementara, Lombok Barat sebanyak 399 orang dan Lombok Timur sebanyak 122 orang. Kemudian, korban luka-luka di Sumbawa Barat berjumlah 115 orang.

5. Gempa dan Tsunami di Palu dan Donggala – September. Dilansir dari Tribunnews.com (grup TribunJatim.com) , gempa bumi dan juga tsunami terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018).
Gempa pertama kali mengguncang Donggala pukul 14.00 WIB.
Gempa tersebut berkekuatan 6 SR dengan kedalaman 10 km dari permukan laut. Setelah gempa pertama tersebut, terjadi kembali gempa pukul 17.02 WIB dengan kekuatan yang lebih besar, yaitu 7,4 SR dengan kedalaman yang sama, 10 km di jalur sesar Palu Koro. Lima menit pascagempa, rangkaian bencana yang terjadi, ternyata belum berakhir.
Sekitar pukul 17.22 WIB tsunami terjadi dengan ketinggian mencapai 6 meter.
Sejak gempa dan tsunami terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, sejumlah gempa susulan terus terjadi di kawasan tersebut hingga Jumat malam.
Tercatat, setidaknya ada 13 gempa dengan kekuatan di atas 5 SR sejak pukul 14.00 WIB hingga 21.26 WIB.
Korban meninggal akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Sulawesi Tengah tercatat mencapai 2.073 orang. "Korban meninggal terdiri dari Kota Palu 1.663 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu, Sulbar," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (11/10/2018).

6. Banjir dan Longsor di Sumatera - Oktober. Dikutip TribunWow (grup TribunJatim.com) dari Kompas.com (grup TribunJatim.com), banjir dan juga tanah longsor terjadi di Sumatera, tepatnya di wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada Kamis dan Jumat (11-12/10/2018).
Akibat banjir dan tanah longsor tersebut, sebanyak 22 orang meninggal dunia dan 15 orang dinyatakan hilang.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatera Utara dan Barat, korban tewas, hilang dan luka tersebar di 4 wilayah, yaitu di Kabupaten Mandailing Natal, Kota Sibolga, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Pasaman Barat.
Banjir dan longsor tersebut diketahui melanda 9 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara yakni Kecamatan Natal, Lingga Bayu, Muara Batang Gadis, Naga Juang, Panyambungan Utara, Bukit Malintang, Ulu Pungkut, Kota Nopan dan Batang Natal pada Jumat (12/10/2018) pagi dan sore hari.
Sebanyak 11 murid madrasah di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, meninggal dunia tertimpa bangunan yang hancur diterjang banjir bandang pada Jumat (12/10/2018) sore saat jam pelajaran sedang berlangsung.
Banjir bandang dan longsor di Mandailing Natal juga menyebabkan 17 unit rumah roboh, 5 unit rumah hanyut, ratusan rumah terendam banjir dengan ketinggian 1 hingga 2 meter di Kecamatan Natal dan Muara Batang Gadis. Kemudian bencana serupa juga terjadi di Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Kamis (11/10/2018).
Hujan menyebabkan longsor di beberapa daerah di Kota Sibolga pukul 16.30 WIB. Longsor tersebut menyebabkan 4 orang meninggal dunia, 1 orang luka berat, dan 3 orang luka ringan. Kerugian material meliputi 25 rumah rusak berat, 4 unit rumah rusak sedang dan sekitar 100 rumah terendam banjir dengan tinggi 60-80 centimeter.

7. Tsunami Selat Sunda - Anyer - Banten
Pada tanggal 22 Desember 2018, peristiwa tsunami yang disebabkan oleh letusan Anak Krakatau di Selat Sunda menghantam daerah pesisir Banten dan Lampung, Indonesia. Sedikitnya 426 orang tewas dan 7.202 terluka dan 23 orang hilang akibat peristiwa ini. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tsunami disebabkan pasang tinggi dan longsor bawah laut karena letusan gunung tersebut.
Beberapa bulan sebelum tsunami terjadi, Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas, dengan terjadinya letusan pada 21 Desember 2018 selama 2 menit hingga menyemburkan abu vulkanik setinggi 400 meter (1300 ft).
Pada pukul 21:03 WIB (14:03 UTC), Anak Krakatau meletus dan merusak peralatan seismografi terdekat, meskipun suatu stasiun lain mendeteksi getaran terus-menerus. Pada pukul 21:27 WIB, BMKG mendeteksi suatu tsunami di pesisir barat Banten, meskipun tidak ada peristiwa tektonik. Menurut fakta yang ada, terjadi longsoran dari Gunung Krakatau sebanyak 64 hektare yang memicu goncangan yang berujung kepada tsunami. Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugrohomerilis sebuah pernyataan yang menghubungkan tsunami dengan pasang tinggi dan longsor bawah laut yang disebabkan oleh letusan Anak Krakatau.

8. Gempa Maluku Utara Magnitudo 5.0
Gempa bermagnitudo 5,0 terjadi di Pulau Morotai, Maluku Utara. Gempa tersebut tak berpotensi tsunami.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tersebut terjadi pada Minggu (13/1/2019), pukul 08.16 WIB. Titik koordinat gempa berada di 3,47 lintang utara (LU) dan 128,60 bujur timur (BT).
Gempa berpusat di laut dengan jarak 124 km arah timur laut Pulau Morotai, Maluku Utara. Gempa memiliki kedalaman 10 km.
Belum ada informasi lebih lanjut terkait dampak dari gempa tersebut. Dipastikan sementara gempa tak menimbulkan tsunami.

Dari berbagai bencana di Nusantara, ternyata masih ada keterkaitan dengan peran Danyang Nusantara. "Melalui ritual terawangan dengan komunikasi gaib dengan Danyang Nusantara. Diperoleh informasi berikut ini. Bencana-bencana yang terjadi di Nusantara ini adalah merupakan bentuk kemarahan makhluk Allah SWT, kemarahan elemen Tanah, Air, Angin dan Api juga para Danyang. Semua itu dikarenakan ulah manusia yang tidak menghargai alam, mengeksploitasi alam dengan seenak hati, tidak menjalankan etika kepada alam dan Danyang Nusantara serta energi negatif karena ulah beberapa oknum pemerintah yang berbuat dzholim kepada rakyatnya. Kejadian bencana ini masih akan terus berlangsung hingga memasuki tahun 2019 ini. Di antaranya angin puting beliung, gempa bumi, kebakaran, banjir, tanah longsor dan hujan badai. Lalu apakah Danyang Nusantara selama ini tidak melindungi Nusantara ini lagi?," ungkapnya usai melakoni deteksi gaib.

Dijelaskan Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma Jati), Danyang Nusantara hingga saat ini masih berusaha melindungi Nusantara dengan kekuatan gaibnya, "Jika tidak ada perlindungan dari Danyang Nusantara maka Nusantara ini akan sangat parah kerusakannya. Meski demikian, Danyang adalah makhluk Allah SWT. Ada Yang Maha Berkuasa atas semua kejadian ini yaitu Allah SWT Yang Maha Besar dan Maha Perkasa. Ini semua juga merupakan teguran dari Allah SWT agar kita senantiasa beristighfar dan memperbaiki diri serta tidak banyak melakukan dosa-dosa lagi," imbuhnya.

Lebih lanjut, dengan ilmu terawangannya. Nusantara memiliki paku-paku gaib. "Salah satu di antaranya yaitu di Tanah Jawa. Tumbal tersebut berada di Puncak Gunung Tidar, Magelang. Karena, Gunung Tidar sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa. Tumbal tersebut ditanam oleh seorang ulama besar dari Persia yang bermaqom waliyullah bernama Syeikh Subakir. Tumbal tersebut berupa batu hitam yang sudah dirajah yang diberi nama Aji Rajah Kalacakra. Tumbal tersebut kini sudah berkurang tuahnya," jelasnya.

Berkurangnya tuah tersebut, menurut spiritualis asal Bandung ini karena beberapa hal. "Yaitu, waktu yang sudah sekian lama atau dengan kata lain kadaluarsa. Rajah tersebut sudah tidak relevan dengan zaman sekarang baik berdasarkan Ilmu Falaq maupun berdasarkan kondisi zaman sekarang yang sudah semakin pesat serta pengaruh berbagai perkembangan teknologi. Rajah tersebut sudah harus "diupgrade" dengan cara perajahan zaman ini, formula rajah agar disesuaikan dengan perhitungan kondisi energi metafisika dan ekologi saat ini. Dengan demikian maka fungsi tumbal rajah di Gunung Tidar akan kembali berfungsi dengan baik. Hal ini penting, dikarenakan Gunung Tidar sebagai titik sentral Tanah Jawa sekaligus sebagai salah satu sentralnya Energi Nusantara. Jika rajah tersebut kembali berfungsi maka Nusantara akan kembali aman. Terbebas dari bencana yang bertubi-tubi," imbuhnya.

Lantas apa penyebabnya? "Di titik-titik tersebut banyak bencana terjadi dikarenakan "tabrakan energi" antara energi positif dengan energi negatif.
Energi Positif berasal dari Rajah Kalacakra bertabrakan dengan energi negatif berasal dari tumbal-tumbal lain yang tidak selaras dan dari kondisi alam yang dipenuhi polusi akibat perkembangan zaman. Dengan perajahan ulang di titik-titik sentral Nusantara ini semoga alam kembali damai dan harmonis. Bencana akan segera berakhir," tegasnya sembari menutup obrolannya bersama Posmo.

Sumber:

Tabloid POSMO edisi 1018 Tahun 2019

Samberlilin99.blogspot.com


Sun, 16 Jun 2019 @10:29


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno