image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Misteri Fenomena Puncak Semeru Bertopi

image

Telisik Metafisika Nusantara dari Fenomena Puncak Semeru Bertopi
Isyarat Para Dewa Musyawarah Sambut Ratu Adil

Puncak Gunung Semeru dilingkupi fenomena aneh sejak Senin pagi lalu. Dari foto-foto dan berita yang beredar, ada sekumpulan awan seperti topi besar yang memayungi puncaknya. Lantas, petunjuk apa yang diperoleh spiritualis Pangeran Sukma Jati men yoal fenomena tersebut? Berikut hasil deteksinya.

Puncak Gunung Semeru pun tampak indah dengan fenomena tersebut. Bahkan, banyak warga net yang mengabadikan kejadian alam di ponselnya. "Itu fenomena yang wajar di puncak gunung," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Rabu, 12 Desember 2018 dikutip Posmo. Menurutnya, dinamika atmosfer di sekitar gunung berpotensi membentuk konfigurasi awan berbentuk topi. Situasi itu akibat udara hangat yang lembap dari bawah kemudian naik dan berinteraksi dengan udara dingin di puncak gunung. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal kejadian seperti itu," ujarnya. Bentuk awan bundar itu lazim disebut lentikular. Bila terjadi di puncak gunung, kata Djamaluddin, sering disebut "cap cloud" atau awan topi. Soal kabar awan topi itu terkait dengan kondisi puncak gunung yang suhunya menjadi lebih dingin, kabutnya lebih tebal, dan anginnya lebih kencang saat kejadian, Djamaluddin menjelaskan awan topi bukan penyebabnya. "Awan adalah fenomena yang terbentuk dari kondisi suhu dan aliran udara (angin) di puncak gunung. Fenomena itu sering terjadi di banyak gunung," ujarnya. Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo juga menanggapi laporan fenomena itu lewat akun Instagram mililnya. Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur bertopi. Puncak gunung tertutup awan jenis lentikularis atau altocumulus lenticularis. Awan ini terbentuk akibat adanya pusaran angin di puncak. Menurutnya, hal ini fenomena alam biasa saja. Beberapa gunung pernah mengalami hal yang sama. Tergantung dinamika atmosfer lokal. "Tidak usah dikaitkan dengan mistis, tanda akan ada musibah, politik atau jodoh seret." Pada kiriman lainnya, Sutopo menyatakan pesona Gunung Semeru saat bertopi, berhelm dan berhijab di puncaknya, membuat indah. Turbulensi atau pusaran angin di bagian atas membentuk awan seolah Sang Gunung bertopi. Turbulensi menandakan pusaran angin yang kencang. Berbahaya bagi pendaki Gunung Semeru karena suhu sangat dingin. Hal ini dapat menyebabkan hypothermia bagi pendaki di atas. Menurut sumber lain, Kepala Subbagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Sarif Hidayat mengatakan, fenomena itu terjadi pada Senin (10/12/2018). Fenomena itu merupakan fenomena biasa tapi jarang terjadi. "Kejadiannya pada Senin kemarin tanggal 10 Desember 2018. Merupakan fenomena alam biasa yang jarang dan langka terjadi. Secara umum diduga karena adanya perubahan atau pergerakan angin di Puncak Semeru," katanya, Selasa (11/12/2018). "Tapi secara pasti apa yang terjadi belum bisa disampaikan sehingga perlu ada penelitian lebih lanjut oleh pihak yang berkompeten," katanya.

Begitulah secara lahiriyah penyebab munculnya fenomena Gunung Semeru bertopi, lantas bagaimana sebenarnya yang terjadi dilihat secara batiniyah? Dalam keheningan meditasi Ilmu Terawangan dan Raga Sukma. Pangeran Sukma Jati (Ki SUkma Jati), spiritualis dengan  kemampuan pembacaan aura ini melihat Gunung Semeru yang damai dan tentram. Diliputi cahaya berwarna putih keperakan menyelimuti keseluruhan tubuh Gunung Semeru dari puncaknya hingga dasarnya. "Selain itu terdengar suara alam dan nyanyian gaib serta para mahluk hidup yang memuja kebesaran Allah SWT. Warna putih keperakan tersebut berasal dari energi dan hawa para dewa yang saat itu sedang berkumpul. Berkumpulnya para dewa di Gunung Semeru ini sangat jarang terjadi, hanya disaat ada suatu hal yang sangat penting saja para dewa akan berkumpul seperti ini.

Musyawarah para dewa ini guna membahas nasib nusantara ke depan terutama terkait dengan pemilihan pemimpin Indonesia tahun 2019 nanti. Para dewa sedang mempersiapkan penyambutan Kepala Negara Baru sebagai Sang Ratu Adil. Disaat doa bersama dan ruwatan nusantara oleh para dewa inilah terbentuk puncak medan energi yang membumbung ke langit dan membentuk payung langit sehingga mirip seperti topi. Puncak Gunung Semeru yang dilingkupi medan energi berbentuk topi itu memancarkan energi yang sangat dahsyat hingga ke seluruh pelosok nusantara yang menimbulkan efek blessing, pemberkatan, restu dan pemersatu bangsa," ungkapnya memaknai peristiwa sesaat setelah melakukan terawangan pada Minggu, 16 Desember 2018.

Lalu, apa makna dari bentukan awan menyerupai sebuah topi? "Topi awan itu pun merupakan simbol mahkota para dewa nusantara yang sedang berkumpul. Selain para dewa, terlihat juga para gaib penunggu lereng Gunung Semeru. Salah satunya adalah Mbah Dipo yang dahulunya adalah Juru Kunci Gunung Semeru yang telah meninggal dunia. Juga dua prajurit Majapahit yang gagah  memberikan perwujudan Arcopodo berupa dua patung/Arca yang berdampingan," tambahnya menjelaskan fenomena alam syarat informasi gaib yang belum lama ini terjadi.

Dari fenomena ini, Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma Jati) melihat betapa para danyang, para dewa dan gaib di nusantara khususnya Gunung Semeru memberikan doa dan mengkondisikan agar nusantara ini tetap dalam keadaan damai dan tentram. "Kita sebagai manusia hendaknya merasa lebih bertanggungjawab atas negeri kita ini, semoga persatuan dan kesatuan kita tetap terjaga dan hidup dalam rukun dan damai sentosa Aamiin Yaa Robbal'alamiin," pungkasnya dengan penuh harap dan doa.

Pakunya Pulau Jawa

Menurut cerita masa lampau. Ada sebuah legenda menyoal Gunung Semeru yang konon tertulis di kitab kuno abad 15, bahwa Pulau Jawa dulunya mengambang di lautan dan terombang ambing. Lalu para dewa memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan Gunung Meru. Gunung ini sendiri tadinya berada di India. Yang membawanya ke Pulau Jawa adalah Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Mulanya Gunung Meru ini diletakkan di ujung barat Jawa, tapi ini membuat posisi pulau Jawa berat sebelah. Maka dibagi dualah gunung ini. Hingga menjadi Gunung Semeru yang diletakkan di sisi timur Jawa Timur, dan Gunung Penanggungan di sisi barat Jawa. Tidak hanya itu, dikisahkan bahwa Puncak Mahameru adalah titik tertinggi di Tanah Jawa. Keyakinan masyarakat kuno adalah puncak gunung ini merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Makanya buat siapapun yang ingin mendengarkan suara-suara dewa, mereka harus semedi dulu di Puncak Gunung Semeru.

Tidak hanya itu, ada mitos bila Gunung Semeru adalah Bapak Gunung Agung. Cerita dan keyakinan ini dipegang oleh masyarakat Bali. Sebagian dari masyarakat Bali percaya bahwa Gunung Semeru merupakan Bapak Gunung Agung. Bahkan, masyarakat Bali juga melakukan upacara sesaji kepada para dewa-dewa yang bersemayam di Gunung Semeru. Upacara sesaji ini biasanya dilakoni setiap 8 – 12 tahun sekali, yaitu hanya pada saat seseorang menerima suara gaib dari Dewa Gunung Semeru. Selain upacara sesaji ini, masyarakat Bali juga sering datang ke Gua Widodaren di sekitaran Bromo untuk mendapatkan Tirta Suci. Itulah sekilas misteri dari keberadaan dari Gunung Semeru yang sarat mitos dan keyakinan leluhur, hingga setiap fenomena-fenomena yang menyelimutinya selalu dikaitkan dengan nilai-nilai kadewatan yang sarat makna spiritual.

Sumber:

Tabloid Posmo edisi 1014

Samberlilin99.blogspot.com

Tue, 30 Apr 2019 @08:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno