image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Misteri Pesawat Lion Air JT 610 yang Hilang di Perairan Tanjung Karawang

image

Misteri Hilangnya Puing Pesawat Lion Air JT 610 yang Jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat
Terhisap Lubang Hitam Bersiklus 200 Tahunan

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018). Benarkah jatuhnya pesawat akibat terjebak pusaran lubang hitam yang muncul setiap 200 tahun sekali di perairan tersebut? Berikut telisik metafisika Posmo bersama spiritualis Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma Jati) sesaat setelah kejadian.

Laporan yang diterima Tribunnews, pesawat tersebut take off pukul 06.10 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta tujuan Pangkalpinang dan mengalami lost contact pada pukul 06.33 WIB. Badan SAR Nasional menemukan puing-puing, perlengkapan, dan potongan tubuh manusia yang diduga terkait dengan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Laut Jawa, Senin (29/10/2018) pagi. Hingga kini, proses evakuasi masih dilakukan tim Basarnas. "Ada puing-puing pesawat, pelampung, hp, dan ada beberapa potongan tubuh," ujar Ketua Basarnas M. Syaugi dalam jumpa pers di kantor Basarnas, Senin. Menurut Syaugi, lokasi ditemukannya puing hingga potongan tubuh itu hanya berjarak 2 nautical mile dari titik koordinat yang diberikan menara Air Traffic Control Bandara Soekarno-Hatta kepada Basarnas. Titik koordinat yang diberikan menara ATC itu adalah terakhir kalinya kontak dilakukan dengan pesawat. Sebelumnya, Kepala Kantor SAR Pangkal Pinang, Danang Priandoko mengatakan, pesawat hilang kontak di perairan laut Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. "Pesawat menuju Pangkal Pinang, namun hilang kontak beberapa menit setelah berangkat," kata Danang Dia menuturkan, pesawat sempat dilaporkan kembali ke bandara Soekarno-Hatta. Namun, pesawat tak jua tiba di Soekarno-Hatta. Terakhir, pesawat itu terlihat berada di koordinat 05 48.934 S 107 07.384 E Tim pun berusaha mendapatkan kepastian. "Tugboat dan sejumlah kapal telah bergerak ke sana. Kami belum bisa pastikan jumlah penumpang," ujar Danang.

Saat ini tim awal operasi SAR dari Basarnas Jawa Barat telah mengirimkan 90 personel ke lokasi untuk titik lokasi kontak terakhir pesawat Lion Air JT 610 yang diduga jatuh di air.  Dalam konferensi pers yang dilakukan Basarnas dan KNKT, dijelaskan pesawat JT 610 take off pada pukul 06.10 rute Jakarta-Pangkal Pinang dan lost contact pada pukul 06.33 WIB.  Jadi jatuhnya JT 610  di Perairan Tanjung Karawang. Jumlah penumpang dan crew sebanyak 189 orang. Saat ini tim Basarnas sedang melakukan evakuasi. Serpihan pesawat dan potongan tubuh dan sejumlah barang-barang penumpang sebagian telah ditemukan. Pesawat Lion Air dengan regitrasi PK-LQP jenis Boeing 737 MAX 8. Pesawat ini buatan 2018 dan baru dioperasikan oleh Lion Air sejak 15 Agustus 2018. Pesawat dinyatakan laik operasi. Pesawat dikomandoi Capt. Bhavye Suneja dengan copilot Harvino bersama enam awak kabin (pramugari) atas nama Shintia Melina, Citra Noivita Anggelia, Alviani Hidayatul Solikha, Damayanti Simarmata, Mery Yulianda, dan Deny Maula. Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan copilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam terbang Itulah secara lahiriyah informasi mengenai jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Memang tidak masuk akanl dikarenakan Pesawat ini baru dioperasikan, pesawat baru yang semestinya tidak ada kendala teknis sedikitpun juga sudah melalui pengujian dan hasilnya layak uji. Tapi kenapa sampai ada insiden terjatuh? Ada apa sebenarnya? Belum lagi Kapten Pilot yang Notabene sudah berpengalaman melakukan terbang lebih dari 6000 jam terbang dan copilot melakukan lebih dari 500 jam terbang. Kenapa sampai terjadi insiden ini? Melalui penelusuran secara batiniyah melalui Ilmu Terawangan dan Mata Batin Pangeran Sukma Jati memperoleh berita gaib berikut ini: "Terlihat lautan membentang berwarna biru dengan ombak yang tenang. Perlahan-lahan menunjukkan wujud gaibnya. Permukaan air tersebut terbelah membentuk seperti sebuah lubang menyerupai bentuk perahu/jajaran genjang. Lubang gaib ini kian jelas ketika Saya memperhatikan dengan seksama melalui mata batin, lubang ini sangat dalam sampai tidak terlihat dasarnya," ungkapnya menerawang peristiwa yang membuat mata dunia tertuju padanya. Daya hisap lubang hitam ini, katanya mampu mematikan radar dan mesin apapun yang melintas. "Lubang gaib ini mirip kisah dunia tentang Black Hole Segitiga Bermuda, lubang berbentuk jajaran genjang ini menyedot dan menarik sesuatu yang ada di sekitarnya hingga yang melintas di atasnya. Lubang hitam tersebut hanya aktif disaat tertentu saja. Siklus buka-tutup lubang ini terbilang sangat panjang. Yaitu 200 tahun sekali. Setiap 200 tahun sekali lubang ini akan terbuka dan menghisap segala sesuatu yang melintas di atasnya, setelah itu benda yang terhisap sebagian akan menuju alam gaib dimensi antara manusia-jin. Cara kerja lubang ini persis dengan Segitiga Bermuda yang menelan banyak kapal-kapal laut disertai ombak yang sangat besar. Secara metafisika, sepertinya ada hubungan antara lubang hitam tempat pesawat jatuh ini dengan Black Hole Segitiga Bermuda," tegasnya menyoal kekuatan dan dampak dari lubang hitam. "Akibat aktifnya lubang hitam Karawang ini, membuat pesawat kehilangan kendali. Mesin mati, terjadi turbulensi dan radar menjadi terganggu. Sehingga pesawat menjadi Lost-Contact," tambahnya.

Saat ini, katanya lubang tersebut sudah tertutup kembali. "Sebagian benda-benda akan masuk ke alam gaib dan tidak bisa ditemukan oleh Tim SAR. Lubang ini sudah fenomena alam gaib. Sudah ketentuan dari Allah SWT, kita hanya bisa berdoa agar selamat dari fenomena seperti ini. Juga mendoakan atas para korban kecelakaan pesawat tersebut semoga Husnul Khotimah," ungkapnya sembari mengajak masyarakat senantiasa untuk berdoa atas keselamatan para penumpang yang menjadi korban jatuhnya pesawat JT 610. Lebih lanjut, Pangeran Sukma Jati juga melihat dengan mata batinnya, bahwa selain lubang hitam terlihat juga angin tornado gaib. "Angin tornado gaib inilah yang membuat pesawat numplek ke dalam laut. Seperti halnya angin tornado, menghisap benda-benda lalu menuju ke pusat hingga masuk ke dalam lubang hitam ini. Angin ini juga persis sama dengan yang ada di Segitiga Bermuda," jelasnya.

Sumber:

Tabloid Posmo edisi 1007

Samberlilin99.blogspot.com

Sat, 4 May 2019 @10:19


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno