image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Misteri Ikan Mati di Danau Toba

image

Misteri Puluhan Ton Ikan Mati di Danau Toba
Akibat Amukan Raja Ikan Gaib Penunggu Danau Toba

Ikan-ikan yang dibudiayakan di Keramba Jaring Apung (KJA) oleh masyarakat Dusun I Kelurahan Pintusona Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir mendadak mati, Rabu (22/8/2018). Bangkai-bangkai ikan mengambang satu persatu. Pemilik keramba pun mengutarakan bahwa mereka mengalami kerugian miliaran rupiah dari 180 ton ikan yang mati. Jenis ikan yang mati beragam ukuran dan jenis. Ikan yang gampang mati yakni ikan mas. Berikut telisik metafisika Posmo bersama Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma Jati).

Kejadian ini pun membuat para warga sedih karena merugi, dan harus bekerja keras untuk mengumpulkan bangkai-bangkai ikan ke dalam karung, dan menguburkannya sehingga mereka terhindar dari penyakit. Pemilik keramba ikan sibuk. Sejumlah alat berat diturunkan mengangkut bangkai-bangkai. Warga juga bergotong-royong membantu membersihkan danau. Sekitar 28 pemilik keramba apung melaporkan seluruh ikannya mati mendadak. Kejadian di atas melalui terawangan gaib Pangeran Sukma Jati (Ki SUkma Jati) disebabkan karena mengamuknya Raja Ikan Gaib di Danau Toba.

"Raja Ikan Gaib merupakan siluman ikan yang sejak dari dahulu kala mendiami Danau Toba. Raja ikan ini adalah satu di antara kerajaan-kerajaan yang ada di Perairan Danau Toba. Raja ikan ini memiliki perangai yang gampang tersinggung dan gampang marah melihat sesuatu yang tidak dia sukai terjadi di sekitar danau. Di antaranya yaitu peristiwa perbuatan mesum dan maksiat yang dilakukan oleh oknum warga di sekitar Danau Toba. Selain itu, rasa syukur peternak ikan yang dinilai kurang. Para peternak menurutnya lebih sering menggerutu ketimbang mensyukuri hasil panen tersebut. Akibat kemarahan raja ikan ini, menyebabkan ikan-ikan yang ada di keramba penjaringan pun mati setiap tahun," ungkap sang spiritualis yang kerap memberikan pembukaan aura ini. Untuk menindaklanjuti fenomena kematian massal ikan itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti baru-baru ini menginstruksikan untuk menerjunkan Tim Satuan Tugas Penanganan Penyakit Ikan dan Lingkungan. Tim Satgas tersebut terdiri dari para ahli perikanan budidaya air tawar dan Balai Karantina Ikan, Medan.

Berdasarkan siaran pers resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rabu (29/8/2018), Tim Satgas bertugas untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan penyebab teknis dan sumber dampak kematian massal ikan. Tim juga memberikan rekomendasi agar persoalan itu selesai. Anggota Tim Satgas, Ahmad Jauhari, menjelaskan, berdasarkan monitoring dan penelitian kualitas perairan danau, setidaknya ada tiga dugaan penyebab kematian massal ikan. Pertama, terjadi penurunan suplai oksigen bagi ikan. Kedua, kepadatan ikan yang tinggi, dan ketiga, keramba jaring apung terlalu dangkal, sementara dasar perairan merupakan lumpur. Jauhari melanjutkan, suplai oksigen tersebut menurun karena terjadi upwelling (umbalan) atau pergerakan material di dasar air ke permukaan.

Fenomena upwelling itu disebabkan cuaca ekstrem yang berakibat perbedaan suhu mencolok antara air di permukaan dan di bawahnya. "Jadi, upwelling membawa nutrien dan partikel dari dasar perairan ke permukaan. Inilah yang menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang. Apalagi, lokasi keramba jaring apung nelayan itu cukup dangkal dan berlumpur," papar Jauhari. "Selain itu, kami juga melihat ternyata kepadatan ikan dalam keramba jaring apung terlalu tinggi sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen," lanjut dia. Tim Satgas merekomendasikan agar masyarakat menghentikan aktivitas di keramba jaring apung untuk sementara waktu, setidaknya selama dua bulan ke depan. Penghentian aktivitas ini demi menunggu recovery perairan agar kondisinya seperti semula. Untuk menghilangkan kebiasaan punahnya ikan ini, Pangeran Sukma Jati memberikan petunjuk yakni harus dilakukan ritual khusus yaitu doa dan ritual ruwat pembersih amarah siluman ikan di Danau Toba. "Ritual ini sebagai simbol bahwa warga pemilik penjaringan ikan tersebut sudah menyesali segala kekeliruan selama ini, juga akan berusaha berubah menjadi lebih baik, lebih bersyukur dan menjaga adat kesopanan di sekitar Danau Toba. Raja siluman ikan akan mau berdamai jika ritual tersebut dilakukan. Dan raja berjanji akan mencabut amarahnya serta membiarkan peternak ikan memperoleh keuntungan yang besar di Danau Toba," tambahnya. Kepada Posmo dirinya pun berharap, semoga dengan informasi ini membuat evaluasi dan perubahan yang baik bagi kita semua. Terutama warga sekitar Danau Toba. "Aamiin Yaa Robbal'aalamin," tutupnya sembari mengungkapkan bahwa kejadian itu juga masih ada rangkaian yang erat dengan "murka" penguasa Danau Toba. Seluruh kerajaan-kerajaan gaib di Danau Toba melampiaskan amarahnya. Sehingga peristiwa kapal tenggelam pun terjadi dan memakan korban yang tidak sedikit.

Sumber:

Tabloid Posmo edisi 999

Samberlilin99.blogspot.com

Sun, 5 May 2019 @10:00


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno