image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Wacana Pemindahan Ibu Kota Indonesia

image

Dari Wacana Pemindahan Ibu Kota Indonesia
Syech Subakir : Nusantara Dikelilingi Energi Negatif

Wacana pemindahan ibu kota kembali mengemuka selepas Presiden Joko Widodo melakukan rapat terbatas di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/4/2019). Lantas, bagaimana dawuh gaib Syech Subakir atas wacana itu? Berikut hasil dialog gaib dengan Sang Penjaga Tanah Jawa.

TENTUNYA pemindahan ibu kota membutuhkan persiapan yang matang, sehingga dapat menjadi pusat pemerintahan sesuai yang direncanakan. Sebenarnya, pemindahan ibu kota pernah dilakukan oleh pemerintah dari Jakarta ke Yogyakarta pada Januari 1946. Situasi yang tak menentu menjelang Agresi Militer Belanda menyebabkan ibu kota harus segera diselamatkan. Barulah setelah dirasa aman, ibu kota dikembalikan ke Jakarta. Dalam perkembangannya, Soekarno ternyata punya pemikiran untuk kembali memindahkan ibu kota. Kali ini pertimbangan Soekarno bukan dari faktor keamanan dan keselamatan, melainkan menunjukkan kota-kota lain yang patut dimanfaatkan sebagai ibu kota negara. Pada waktu itu, beberapa kota direkomendasikan menjadi tujuan, salah satunya adalah Palangkaraya atau Samarinda pada 1950-an. Namun, sampai saat ini Jakarta masih menjadi lokasi yang belum tergantikan. Soekarno menilai, tak ada kota lain yang punya identitas seperti Jakarta yang menjadi wadah tumbuhnya nasionalisme di Indonesia. Sebab, di Jakarta banyak kisah monumental bersejarah bangsa, perjuangan hingga berkibarnya Merah Putih. Munculnya bangunan-bangunan seperti Monumen Nasional (Monas), komplek Senayan dan Gelora Bung Karno (GBK) menjadi bukti Soekarno tetap mempertahankan Jakarta sebagai ibu kota negara. Pada 1950-an, ada wacana Soekarno melirik daerah di Kalimantan Tengah sebagai ibu kota negara. Langkah ini dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan awal Kota Palangkaraya yang secara simbolis diperlihatkan dengan pembangunan tugu peringatan. Tugu Soekarno itu diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 17 April 1957. Presiden pertama RI ini sebenarnya tak berencana secara langsung memindahkan ibu kota, melainkan membagi beban Jakarta kepada kota ini. Soekarno juga ingin menampilkan wajah-wajah baru Indonesia kepada dunia. Kalimantan juga mempunyai lokasi strategis, karena bebas dari pusat gempa. Setelah pemantapan lokasi tersebut, belum ada kelanjutan mengenai prosesi pemindahan. Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 25 Januari 1997, Soekarno ternyata juga mempunyai visi bahwa sebaiknya ibu kota baru berada di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur. Ada banyak keuntungan positif untuk itu. Beberapa kontraktor dari Rusia sudah datang ke Kota Palangkaraya dan membangun jalan besar menuju Kotawaringin. Namun nampaknya ini belum bisa dijadikan realisasi dari Soekarno tersebut. Pemerintah ketika itu masih mempertimbangkan banyak hal untuk melakukan rencana ini terutama adalah kesiapan dan biaya yang besar. Namun pergeseran kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto, rencana ini masih belum terealisasi.

Direktur Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah, Robert Eni Jaweng, menuturkan, rencana pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo merupakan langkah guna mendukung pembangunan Indonesia sentris, bukan lagi Jawa sentris.
"Dalam suatu konteks yang lebih besar dan fundamental, ini (pemindahan ibu kota) adalah bagian dari upaya mendorong Indonesia sentris. Sebab, selama ini pembangunan masih Jawa sentris dan Jakarta sentris," ujar Robert dalam diskusi bertajuk "Pindah Ibu Kota nih?" di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (4/5/2019). Robert menjelaskan, rencana pemindahan ibu kota selaras dengan tujuan Presiden Jokowi untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Artinya, pembangunan di Pulau Jawa dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur, akan dilakukan serupa di ibu kota yang baru. Maka dari itu, lanjutnya, pembangunan tidak hanya berpusat di Jakarta atau Pulau Jawa saja, tetapi juga menyebar rata ke daerah-daerah lainnya. "Penyebaran pusat-pusat baru pemerintahan dan ekonomi di tempat lain alhasil berjalan. Ini menjadi langkah penting karena selama 20 tahun berotonomi, pemerataan belum terlihat, apalagi konsentrasi penduduk kita hampir 50 persen di Pulau Jawa," ujar dia kepada Posmo. Di sisi lain, Robert mengingatkan kepada pemerintah untuk memiliki mekanisme tepat dalam kepemilikan lahan tanah yang akan dijadikan sebagai lokasi ibu kota baru. Sebab, status hukum kepemilikan lahan menjadi faktor penting agar pembangunan ibu kota baru tak terbengkalai. "Lahan harus sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah. Banyak proyek infrastruktur pemerintah yang terbengkalai karena pembebasan lahan. Maka dari itu, pemerintah perlu skema yang kuat untuk menghadapi risiko yang akan ada," paparnya. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk memindahkan Ibu Kota ke luar pulau Jawa. Hal itu diputuskan Jokowi dalam rapat terbatas terkait pemindahan Ibu Kota di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/4/2019).

Isyarat Gaib Palangkaraya

Lalu bagaimana tanggapan Syech Subakir, sebagai "penjaga gaib" Tanah Jawa dan para gaib nusantara/Jawa mengenai hal ini? Dalam keheningan meditasi ritual ilmu terawangan yang dilakoni Pangeran Sukma Jati muncul sosok bersorban putih, berselendang putih, memakai gamis abu-abu, perawakan yang tinggi, sedang tidak kurus juga tidak begitu gemuk, dengan wajah bercahaya dan senyum ramah beliau adalah Kanjeng Syech Subakir, Sang Penjaga Gaib Tanah Jawa. "Beliau muncul sesaat setelah Saya mengucapkan salam kepada Paku Tanah Jawa, energi positif yang begitu besar menghampiri Saya seraya menjawab salam Saya. Kemudian Kami berbincang-bincang, dalam kesempatan itu Saya menanyakan perihal pemindahan ibu kota yang sedang direncanakan oleh Bp. Jokowi. Beliau menanggapi, bahwa pemindahan ibu kota saat ini sangatlah tidak tepat. Sebab, saat ini nusantara tengah dikelilingi energi negatif, hawa nafsu serakah dari suatu golongan, kekuatan jahat yang berusaha untuk membuat nusantara kacau dan tidak kondusif. Menurut beliau, pemindahan ibu kota disaat seperti sekarang ini adalah terlalu memaksakan diri, hanya melihat dari satu sudut pandang, tidak peka melihat gentingnya nusantara pasca pemilu ini. Belum lagi kekacauan dalam Pemilu yang menelan banyak korban jiwa, baik yang meninggal karena kelelahan, pembunuhan oleh oknum tertentu maupun oleh sebab lain yang saat ini masih dalam proses penyidikan. Ide untuk memindahkan ibu kota disaat seperti ini akan terkesan sebagai suatu reaksi pemerintah dari hasil pemilu yang tidak sesuai harapan. Bahkan, jika penetapan pemenang pemilu ini adalah berada di pihak 02, maka boleh jadi ide seperti ini akan segera dibatalkan," ungkap Pangeran Sukma Jati sesaat melakoni dialog gaib dengan Syech Subakir.

Katanya lagi, "Ketika kubu 02 yang memenangkan pemilu ini sampai kepada pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, yang terjadi adalah membenahi Jakarta sebagai ibu kota dan menunda ide pemindahan ibu kota ke luar jawa. Saat ini Jakarta, Pulau Jawa masih sangat cocok dan kondusif sebagai ibu kota, pusat pemerintahan dan pusat ekonomi. Meski begitu, ide pemindahan ibu kota ini mungkin akan terealisasi dalam waktu yang masih lama, tidak terburu-buru, direncanakan secara matang dengan kepala dingin dalam situasi yang tenang dan tentram. Kanjeng Syech Subakir pun memberi pesan bahwa jangan terburu-buru memindahkan ibu kota ke luar Jawa, sebab itu tidak akan menjadi solusi, akan banyak tenaga, biaya dan waktu terbuang, kapan akan maju kalau ibu kota dipindahkan dengan terburu-buru? Yang benar adalah perkuat dulu Jakarta dan Jawa sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan, maka barulah ide ini (pemindahan ibu kota) bisa digagas. Selan itu, isyarat gaib pun diperoleh dari gaib-gaib di tempat yang diduga akan menjadi pengganti ibu kota, salah satunya di luar Jawa adalah Kota Palangkaraya. Gaib-gaib di Palangkaraya memberi isyarat bahwa saat ini tidak akan kondusif jika pemindahan ibu kota dilaksanakan, sebab energi cosmic nusantara masih belum seimbang karena dampak dari Pemilu ini. Jika dipaksakan, maka akan terjadi pergolakan yang menimbulkan banyak bencana dan korban. Gaib Pakangkaraya memberi pesan untuk memperkuat terlebih dahulu Kota Jakarta dan Pulau Jawa sebagai pancer/pusat nusantara sehingga seluruh daerah di nusantara akan kembali tenang dan seimbang. Begitulah tanggapan dari para gaib Nusantara mengenai ide pemindahan ibu kota. Hendaknya pemerintah tidak terburu-buru merealisasikan ini, meskipun ide ini muncul sejak zaman Presiden Soekarno, namun setidaknya bukan pada masa sekarang ini, tunggu dulu sampai nusantara kembali seimbang dan kesatuan semakin kokoh. Semoga para penyelenggara negara berpikir ulang untuk ide tersebut. Semoga hasil pemilu ini jujur dan sesuai fakta. Semoga yang menjadi Presiden berikutnya adalah yang jujur, amanah dan mencintai rakyat dan persatuan. Aamiin Yaa Robbal'alamiin," pungkas spiritualis asal Bandung ini menerjemahkan pesan gaib yang diterima selama proses dialog gaib dengan Syech Subakir.

Sumber:

Tabloid Posmo edisi 1029

Samberlilin99.blogspot.com

Fri, 17 May 2019 @22:27


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno