image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Kisah Pandawa dan Kurawa

image

Kisah Pandawa dan Kurawa
Salya Berikan Kerajaannya kepada Nakula dan Sadewa

Perang Baratayuda atau lengkapnya Baratayuda Jayabinangun, perang antar darah Barata (Kurawa melawan Pandawa), merupakan salah satu dari empat perang besar yang telah digariskan dewa dalam pewayangan. Perang Baratayuda, perang dimana terjadi bagaimana prajurit yang maju menjadi Senopati, memetik hasil dari apa yang telah ditanam dan di sisi lain meluwar janji yang pernah terucap. Berikut cerita perang Baratayuda.

Prabu Salya melanjutkan pembicaraannya. "Begini Pinten, Tangsen mulai saat ini uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata-kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka" Nakula dan Sadewa menatap mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya meneruskan, "Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi kerajaan Mandaraka dengan segenap jajahan dan bawahannya, Aku akan serahkan kepada kamu berdua, mulai saat ini kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa". Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam dengan sang Uwak mengatakan hal ini, maka jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir, dengan menyerahkan negara Mandaraka maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata menyanggupi Hamba, Uwa Prabu, semua yang Uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi".

Kemudian Prabu Salya melanjutkan, "Kewajiban kamu berdua adalah; Nakula, kamu akan aku berikan tugas sebagai Raja yang menangani urusan di dalam Negara. Sedangkan Sadewa, kamu kuberikan kewajiban sebagai raja yang menangani urusan di luar negara. Yang Saya maksudkan adalah Sadewa melakukan hubungan ketatanegaraan dengan raja-raja di luar Mandaraka. Sedangkan Nakula lakukan penggalangan dengan raja-raja jajahan yang ada dalam lingkup negara Mandaraka. "Menjadi raja itu sebenarnya tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Tetapi ibarat orang yang hendak bepergian, ia haruslah membawa bekal yang cukup, bila selayaknya orang yang bepergian dengan arti yang sebenarnya cukuplah dengan bekal uang dan barang-barang tertentu. Tetapi bila berbicara mengenai bekal bagi orang yang hendak menjadi pemimpin negara, haruslah kamu berdua memiliki sedikitnya empat hal yang harus kamu kuasai". "Uwa Prabu kami akan mendengarkan segala petuah yang hendak paduka berikan kepada Kami berdua" keduanya mengatakan kesanggupannya.

"Pertama pujilah Asma yang Maha Agung atas kekuasaannya terhadap alam semesta. Mengertilah , bila kamu menjumpai sesuatu yang ada, pastilah ada yang menciptakan. Pencipta itu langgeng namun yang diciptakan akan rusak atau berganti oleh berlalunya waktu. Ikuti perubahan yang terjadi dan janganlah tetap tinggal dalam sesuatu yang tidak langgeng. Bergeraklah dalam perubahan bila tidk ingin terlindas oleh perubahan itu . Maka benarlah sebagian orang mengatakan perubahan itulah, langgeng yang sebenarnya".

"Kedua lakukan tatacara bersembah, menurut tatacara yang telah digariskan atas kepercayaan masing-masing. Jangan pernah memaksa tatacara dan kepercayaan lain yang sudah mereka anggap benar. Tetapi tegakkan terlebih dahulu tatacara bersembah yang telah menjadi kepercayaanmu itu. Dan hendaknya kamu berdua jangan mengatur segala hal mengenai kepercayaan secara resmi dalam negara. Dengan keresmian pembentukan wadah kepercayaan kepada Yang Maha Tunggal oleh Negara. Ini akan mengakibatkan kepercayaan yang telah terbentuk oleh negara akan menguasai dan bertindak sewenang-wenang atas kepercayaan kelompok kepercayaan kecil yang lain. Awasi saja agar kepercayaan itu tumbuh dengan kewajaran dalam jalur yang lurus, tidak saling mengalahkan atas kebenaran menurut kepercayaan masing-masing. Ciptakan kebebasan terhadap setiap pribadi dalam menentukan kepercayaan yang dipilih. Katakan kepada setiap pribadi dan golongan: jangan kalimat dalam kitab suci mereka dipahami secara sempit, hingga mereka terkungkung oleh langit yang mereka ciptakan sendiri dari ajaran yang dianut".

"Ketiga pahami kebenaran sejati. Jangan pernah menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain dan jangan menyalahkan juga kebenaran yang sudah menjadi kepercayaanmu sendiri. Bila kamu senang menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain apalagi kelewat mengatakan kepada pihak lain, bahwa kebenaran yang paling benar adalah kebenaran yang kau anut, maka mereka yang kau katai akan kembali menyalahkan kebenaran yang kau anut. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya nanti".

Wed, 3 Jul 2019 @09:34


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno