image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Tokoh Tarekat Syadziliyah Kelahiran Spanyol

image

Tokoh Tarekat Syadziliyah Kelahiran Spanyol
Syekh Muhammad Ibnu Abbad

Syekh Muhammad Ibnu Abbad (1332-1390) adalah seorang tokoh sufi Tarekat Syadziliyah terkemuka kelahiran Spanyol pada abad ke- 14. Ia lahir pada tahun 1332 di Ronda, sebuah kota di puncak bukit Spanyol, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Mariniyah. Pada usia tujuh tahun ia sudah dapat menghafal al-qur'an dan mulai mempelajari fiqih Madzhab Maliki.

Pada tahun 1347, ia terpaksa hijrah ke Fez, Maroko, akibat tekanan dan penaklukan kembali orang-orang Kristen yang berhasil mengalahkan Sultan Mariniyah pada tahun 1340 dan membuat kehidupan kaum muslimin di Spanyol menjadi semakin sulit. Di Fez, Ibnu Abbad kembali belajar fiqih Maliki dan teologi.

Mentor termasyhur Ibnu Abbad di bidang fiqih adalah Asy-Syarif at-Talimsani (1369 M), seorang pemimpin kebangkitan kembali Malikisme. Sementara itu di bidang teologi, ia belajar teologi Asy'ariyah kepada al-Abili (1356 M), dengan kajian kitab Al-Irsyad, karya al-Juwaini (1086 M), salah seorang guru al-Ghazali. Disamping kedua pokok kajian tersebut, ia juga mempelajari himpunan hadits Nabi Shahih Muslim, karya Muslim al-Mutawaththa' dan karya Malik bin Anas.

Karya yang disebut terakhir ini dipelajari dari al-Imrani, seorang faqih kenamaan yang disebut-sebut sangat tertarik pada tasawuf. Ibnu Abbad sendiri mengenal tasawuf lewat guru-guru fiqihnya yang juga mengajarkan tasawuf secara pribadi, dengan memakai karya-karya klasik al-Maliki, al-Ghazali dan Suhrawardi.

Situasi kota Fez yang sangat kacau akibat perebutan kekuasaan setelah meninggalnya Sultan Abu Inan pada tahun 1358 M, memaksa Ibnu Abbad untuk kembali meninggalkan kota ini menuju ke barat (Sale), sebuah kota di tepi laut Atlantik.

Di sana ia berguru kepada Ibnu Asyir (1300-1362 M), seorang wali yang dikenal sebagai tokoh poros kebangkitan tasawuf di luar tarekat. Ia kemudian menjadi murid kesayangan dari Ibnu Asyir. Di bawah bimbingan Ibnu Asyir,  Ibnu Abbad banyak mengetahui dan membaca tasawuf dari berbagai cabang tarekat serta gayanya, sampai akhirnya ia memutuskan ia menjadi anggota Tarekat Syadziliyah. Setelah Ibnu Asyir meninggal, Ibnu Abbad meninggalkan Sale menuju Tangiries. Di sana ia berguru kepada seorang sufi yang tidak begitu dikenal, Abu Marwan Abu Malik.

Setelah tinggal untuk beberapa waktu, ia kembali ke Fez, dan di sana ia berkenalan dan bersahabat dengan Yahya as-Sarraj dan Abu Rabi Sulaiman al-Anfasi. Atas permintaan kedua sahabatnya ini ia menulis At-Tanbih yang diselesaikannya antara 1370-1372 M.

Setelah itu Ibnu Abbad kembali ke Sale dan tinggal di sana sampai sekitar 1375 M. Kemudian, karena reputasi dan integritas pribadinya, serta kemasyhuranTanbih-nya, Sultan Abu al-Abbas Ahmad lalu mengangkatnya sebagai imam dan khatib Masjid Qayrawiyin di Fez, institusi agama dan ilmu tertua yang paling bergengsi da Afrika Utara.

Sebagai khatib Ibnu Abbad dalam menyampaikan khutbah-khutbahnya lebih memilih dan menyukai gaya didaktis (pengajaran) ketimbang nasihat atau peringatan. Ia dengan setia menunaikan tugas-tugasnya, meyakinkan jamaah dengan caranya yang halus dan membimbing mereka menuju kepada Allah Maha Pencipta, yakni ketulusan, kepastian, dan rasa syukur.

ia juga suka menggugah langsung hati nurani jamaah, lewat materi-materi dakwahnya yang selaras dengan kehidupan sehari-hari.

Yang menarik, Ibnu Abbad tidak memandang khutbah umum itu sebagai forum yang tepat untuk menyampaikan masalah-masalah tasawuf.

Sebaliknya, ia membahas masalah tasawuf secara lebih mendalam melalui syarah kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha'illah dan dua koleksi surat-suratnya (keseluruhannya ada 45 buah surat) yang berhasil diedit oleh P. Nwya, seorang jesuit asal irak.

Melalui dua karyanya inilah dapat memahami gambaran jiwa ibnu Abbad dan metode bimbingan spiritualnya. Dengan rendah hati ia mengakui bahwa dirinya tidak pernah menikmati dzauq, "pengalaman mistis" atau secara langsung mencicipi "kebahagiaan" yang tidak terucapkan; ia tidak pernah mengalami luapan perasaan yang membuatnya ekstase seperti dialami oleh para sufi lain. Oleh karena itu, tidak satupun tema-tema sentral seperti ucapan-ucapan syathah, hal atau maqam kaum sufi yang bisa ditemukan dalam surat-suratnya. Demikian juga tidak ditemukan topik-topik favorit para teoritis sufi dalam tulisan-tulisannya seperti pembahasan tentang alam-alam yang mesti ditempuh jiwa, pemikiran tentang Dzat yang Wujudnya Mesti Ada, dan tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi ia merasa puas dengan apa yang telah dipelajari dan ditelaahnya terhadap kitab-kitab para guru sufi sebelumnya.

Tue, 27 Aug 2019 @10:38


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno