image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Kisah Pengembaraan Sunan Gunung Jati di Palestina Menemukan Kitab Usul Kalam di Istana Bani Israil

image

Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati adalah putra dari Sultan Hud, yang memiliki wilayah kekuasaan mulai dari Mesir hingga Palestina. Ibunya bernama Ratu Nyimas Larasantang. Tapi setelah menjadi istri raja Mesir berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Semasa mudanya Syarif Hidayatullah lebih suka mengembara dari pada tinggal di istana kerajaan. Lokasi pengembaraannya hinga sampai ke daerah Palestina. Di daerah Palestina, Syarif Hidayatullah merasa aman-aman saja. Karena merupakan wilayah kekuasaan ayahnya. Orang Yahudi dan Nasrani pun hormat dengannya. Karena dianggap sebagai putra mahkota kerajaan Mesir.

Dalam pengembaraannya ia menemukan sebuah kitab yang selama ini  dicari Ulama-Ulama kerajaan. Namanya Kitab Usul Kalam yaitu suatu Kitab yang ditemukan di Gedong Agung dalam istana Bani Israil, kitab tersebut ditulis dengan menggunakan tinta emas dan di dalamnya membahas mengenai hakikat Nabi Muhammad SAW dan menjelaskan mengenai Dzat Allah SWT yang Maha Suci.

Syarif Hidayatullah merasa gembira. Kemudian membaca kitab tersebut. Rupanya kitab itu mempengaruhi jiwa dan pikiran cucu Raja Padjadjaran. Setelah membaca kitab tersebut, Syarif Hidayatullah mempunyai keinginan kuat untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, ia kembali ke Mesir meminta izin kepada orang tuanya. Tapi sayangnya sesampainya di istana kerajaan mendapat kabar ayahnya telah meninggal dunia, hatinya sedih. Tapi tidak menyurutkan niatnya untuk bertemu dengan Nabi Muhammad SAW meskipun telah meninggal dunia beberapa abad lamanya.

Ketika ada keputusan yang menyatakan, bahwa penerus tahta adalah Syarif Hidayatullah. Karena Beliau merupakan anak laki-laki pertama dari Sultan Hud dan Nyimas Larasantang. Keputusan tersebut ia tolak, sehingga jabatan raja diberikan kepada adiknya yang nomor dua. Syarif Hidayatullah meminta supaya diizinkan melakukan pengembaraan mencari Nabi Muhammad SAW.

Izin tersebut membuat ibundanya kaget bukan kepalang. Ibunda Syarif Hidayatullah, dalam keadaan itu kemudain berkata "wahai anakku bukankah Nabi Muhammad SAW telah wafat dan dikuburkan di Madinah, Anakku, bagaimana mungkin ananda bisa berjumpa dengan beliau?, sudahlah anakku, janganlah engkau pergi!"

Mendapati gelagat aneh dari anaknya itu, Ratu Nyimas Larasantang merasa khawatir dan memberitahukan kepada patihnya yang bernama Patih Onka, Sang Patih kemudian membujuk Syarif Hidayatullah muda, bujukannya agar jangan mengembara. Sebab Nabi Muhammad SAW sudah wafat dan telah dikuburkan di Madinah, lagipula penobatan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa Bani Israil segera dilaksanakan.

Namun demikian Syarif Hidayatullah sudah kuat hatinya, ingin mengembara mencari Nabi Muhammad SAW, demikian katanya terhadap Sang Patih "Paman, aku tidak menganggap beliau telah wafat, karena itu adalah urusan Allah yang bersifat Maha Pengasih.

Apakah Paman pernah mendengar ada orang yang telah wafat kemudian datang menemui orang hidup? Memang Allah itu Maha Kuasa. Susah atau mudahnya kita serahkan kepada Allah SWT, begitu tambah Syarif Hidayatullah dengan keyakinan penuh".

Niat yang begitu besar akhirnya Patih Onka tidak bisa berbuat banyak. Kemudian mengizinkan Syarif Hidayatullah untuk melakukan pengembaraan menemui Rasulullah SAW. Satu hari kemudian Syarif Hidayatullah meninggalkan istana dan mengembara mencari Nabi Muhammad SAW, berbekal baju, emas dan kuda sebagai tunggangannya.

Dalam pengembaraannya itu Syarif Hidayatullah menuju Palestina guna mengunjungi Makam Nabi Sulaiman di Pulau Majeti. Beliau juga kemudian terdampar di Jabal Kahfi. Dalam perjalanan selanjutnya dimana Syarif Hidayatullah dalam keadaaan lelah setelah seratus hari seratus malam tak kunjung menemukan Nabi Muhammad SAW.

Kemudian pada malam hari dalam tidur lelpanya, Syarif Hidayatullah memasuki alam dimensi lain, beliau melihat alam nyawa dimana tempat berkumpulnya nyawa orang-orang yang telah wafat dalam perang sabil berada.

Dalam alam nyawa itu, Syarif Hidayatullah kemudian didatangi oleh Nabi Khaidir, dan beliau mengabarkan kabar gembira kepada Syarif Hidayatullah, bahwa keinginannya untuk dapat bertemu Nabi Muhammad SAW akan terlaksana, sang Nabi Khidir pun kemudian mengangkat Syarif Hidayatullah menjadi Waliullah.

Dengan menunggangi kuda yang bernama Kuda Sembrani, Nabi Khaidir kemudian membawa Syarif Hidayatullah melesat bagaikan kilat, tenggelam dalam ketidaktahuan arah, utara-barat-timur maupun selatan. Alam menjadi gelap gulita hingga akhirnya sampailah kepada suatu tempat yang terang benderang, keduanya tibda di Gunung Mirah Wulung.

Burung Putih

Setelah Syarif Hidayatullah muda turun dari kudanya, kemudian Nabi Khaidir meninggalkan beliau sambil berpesan, "Engkau tunggulah disini dengan sabar, nanti akan ada yang datang kepadamu, nanti akan akau lihat sendiri".

Selang beberapa lama setalah masa penantian, datanglah seekor burung putih keluar dari puncak gunung mendatangi pemuda Syarif dan kemudian membawanya naik ke puncak Gunung Mirah Wulung. Syarif Hidayatullah muda dibawa ke Masjid Kumala.

Tanpa diketahui kedatangannya, kemudian terlihat Rasulullah SAW, cahayanya menyilaukan memancar menerangi alam sekelilingnya. Syarif Hidayatullah lalu menghambur untuk bersujud dihadapan Nabi Muhammad SAW, akan tetapi bahunya segera diangkat oleh Nabi, dan sabdanya "nanti kamu kafir kalau menyembah sesama manusia!, sebab sejak awalnya sujud itu hanya kepada Allah SWT".

Pemuda Syarif kemudian berkata "Hamba mohon syafaat, baiat kepada sejatinya, semoga selamat dunia sampai akhirat". Artinya: "Hai anak muda, yang akan menjadi pengganti diriku. Ingatlah kamu selalu sesama hidup, karena hidup itu tidak berbeda, tidak bia dibunuh karena sukmanya itu Allah. Jangan sampai nanti terlambat, hanya ada satu tak ada duanya, yaitu itulah engkau adanya. Namun lahir harus memakai tirai, untuk meramaikan negara, berikan petunjuk kepada Hamba Allah, berhati-hatilah dalam bertutur kata. Sempurnakanlah amal syariat yang utama dengan berbakti kepada ayah dan bunda, dan kunjungilah Ka'bah Allah, carilah guru yang shaleh dan janganlah meninggalkan adat dunia, hanya itulah nasihatku",

Maka selesai sudah baiatnya Rasulullah. Syarif Hidayatullah pun kemudian bersyukur karena tercapai sudah keinginannya yaitu, berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.

Tue, 10 Sep 2019 @10:00


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno