image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Kembar Nakula-Sadewa Sowan Prabu Salyapati

image

Dikisahkan, saat itu di istana wilayah Mandaraka, abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah. Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang hendak bertamu dengannya. Maka ia maih dalam busana putih yang ia kenakan ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar pemujaan.

Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua sosok yang sangat ia kenali dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik perempuan satu-satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk ditempat semula, tangannya mengusap-usap kepala kemenakannya dengan sepenuh kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti kepadanya.

"Pinten, Tangsen, duduklah dekat kemari" masih disertai senyum, Sang Uwak ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen kepada Nakula dan Sadewa. ia masih saja menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak-kanak, walau mereka sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu. Dan masih tercetak kuat dalam benaknya betapa sejak kecil keduanya telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasih Sang Uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.

Nakula dan Sadewa beringsut sejengkal memenuhi keinginan Uwaknya. Tanya seputar keselamatan masing-masing telah mereka ucapkan dengan singkat, hingga kemudian Prabu Salya membuka pembicaraan ke hal selain basa-basi.

"Kedatangan kemari aku merasakan seperti halnya ibumu hadir dalam diri kamu berdua. Kembar, alangkah malangnya kamu berdua ditakdirkan terlahir sebagai anak piatu". Sejenak Parbu Salya yang baru saja membuka kata, terdiam. Matanya menerawang mengingat adiknya Madrim dengan segala tingkah polahnya. "Didunia ini, siapakah orangnya yang tidak mengenal Prabu Pandu Dewanata, ayahmu. Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan keterangan selengkap yang aku berikan mengenai keberadaan ayahmu, kecuali itu datang dari diriku. Dulu sewaktu ibumu hamil, ngidam kepingin naik Lembu Andini. Padahal ia tahu, Lembu Andini itu kendaraan Hyang Guru. itupun ia mengendarainya sendirian saja".

Yang diajak cerita masih diam sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepalany. Dibiarkannya Uwaknya berceritera. Walaupun cerita itu sudah berkali-kali ia dengar dari mulut Uwaknya, Prabu Salya.

"Pinten, Tangsen, aku akan menceritakan kembali apa yang terjadi pada kedua orang tuamu. Dengarkan ya". Prabu Salya menyambung, "Ibumu, Madrim ternyata meniru tindakan istri Batara Guru, yaitu Dewi Uma, yang juga ingin menaiki Lembu Andini berdua dengan Batara Guru, suaminya. Walau banyak suara sumbang ingin menggagalkan permintaan Uma atas keinginannya itu tetapi cinta Batara Guru terhadap Dewi Uma mengalahkan keberatan parampara kahyangan Jonggiri Kaelasa".

Cerita yang diceritakan Prabu Salya melebar, namun demikian Nakula dan Sadewa masih saja mendengarkan dengan sesekali mengangguk kecil. "Waktu demi waktu berlalu, berdua melanglang jagat menaiki Lembu Andini. Taklah aneh, bila segala keinginan Batari Uma dituruti, karena cinta mereka sebagai suami istri yang baru mereka jalani. Mereka lupa bahwa mereka ada dipunggung Lembu Andini. Kekuatan asmara telah menggiring mereka melakukan olah asmara diatas punggung Lembu Andini. Hingga kemudian meneteslah kamasalah, jatuh kelautan dan menjelma menjadi raksasayang dinamai Batara Kala. Dialah putra Batara Guru dengan Dewi Uma, yang membuat jagat yang semula tentram menjadi kisruh, yang suci bening menjadi tercemar, yang tegak menjadi berantakan".

"Tetapi ternyata perbuatan itu telah ditiru mentah-mentah oleh ayahmu, Pandu. Walau Dewa telah memberi peringatan, tetapi ayahmu telah berlaku terlalu tinggi hati, mentang-mentang ayahmu telah sangat berjasa Kahyangan. Ayahmu lupa bahwa telah diberikan anugrah ketika ia telah berhasil menyingkirkan musuh Kahyangan. Ganjaran yang telah Dewa berikan berupa Minyak Tala. Bahkan telah berjudi dengan nasibnya, dengan menyanggupi diri untuk menjadi kerak Kawah Candradimuka. Itulah ayahmu, watak tinggi hati, dan rasa cinta terhadap ibumu yang tiada terkira, membuat ia lupa segalanya".

Wed, 11 Sep 2019 @13:04


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno