image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Kiai Hamid Waliyullah yang Santun dan Dermawan

Gerak-geriknya yang halus, suaranya yang pelan, wajahnya yang tenang. Siapapun yang memandangnya pasti merasa nyaman dan hatinya bagai tersentuh tangan yang lembut. Dia adalah Kiai Hamid, salah seorang sosok ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk agama. Beliau tidak pernah silau oleh pesona kekuasaan, tidak tergiur oleh oleh gemerlap lampu sorot publik. Namun, nasihat-nasihatnya selalu didengar oleh ummat muslim yang datang kepadanya.

Kiai Hamid mempunyai nama kecil Abdul Mu'thi, beliau adalah putera ke- 4 dari 12 bersaudara. Sewaktu kecil beliau mempunyai panggilan kesayangan, yaitu Dul. Beliau lahir dari pasangan Kiai Abdullah bin Umar dengan Raihanah binti Kiai Shiddiq. Sejak kecil beliau dikenal sebagai anak yang cerdas dan tinggal di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Sewaktu kecil Kiai Hamid digembleng ilmu agama oleh Kiai Abdullah bin Umar yang tidak lain adalah ayahnya sendiri untuk membaca Al-Qur'an. Kemudian pada umur 9 tahun, beliau mulai belajar ilmu Fiqih dasar. Selang tiga tahun kemudian, saat beliau usia 11 tahun, Kiai Hamid di pondokkan oleh ayahnya ke pondok pesantren Termas, Pacitan.

Sewaktu belajar agama di pindok, Kiai Hamid sering kali bermain ke rumah kakeknya Kiai Shiddiq di Talangsari, Jember dan kadang-kadang bertandang ke rumah pamannya Kiai Ahmad Qusyairi di Pasuruan. Dan pada usia 12 tahun, beliau mulai berkelana dengan memperdalam ilmu agama Islam. Mulai belajar agama di pesantren kakeknya, Kiai Shiddiq di Talangsari, Jember. Sampai akhirnya tiga tahun kemudian beliau diajak kakeknya untuk pergi haji yang pertama kali bersama keluarga, paman-paman dan bibinya.

Tidak lama kemudian, beliau pindah ke pesantren di Kasingan, Rembang, Jawa Tengah. Di Desa wilayah sekitarny, Kiai Hamid mulai belajar fiqih, hadits, tafsir dan ilmu agama islam lainnya. Sampai pada usia 18 tahun, beliau pindah lagi ke Termas, Pacitan, Jawa Timur. Setelah di pesantren beliau di percaya sebagai lurah, disini Kiai Hamid mulai menampakkan perubahan sikapnya, amaliyahnya mulai intensif. Konon beliau suka berkhalwat disebuah gunung dekat pesantren untuk membaca wirid.

Tawadhu'

Singkat cerita, diusianya yang ke 22 tahun, Kiai Hamid kemudian diambil menantu oleh Kiai Qusyairi, dengan sepupunya sendiri yaitu, Nyai H. Nafisah. Dari pasangan ini dikarunia enam anak, satu diantaranya seorang puteri. Kini anak beliau tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nu'man, H. Nasikh dan H. Idris.

Meski beliau sebagai orang alim dan menjadi menantu kiai, beliau tetap tawadhu' (rendah hati) kepada siapapun orangnya. Suaranya pelan dan juga kelembutan suaranya bak diibaratkan persis dengan kelembutan hatinya, yang mudah sekali menangis, apabila melihat dan mengetahui anaknya yang bandel.

Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, sehingga semua orang merasa dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan kasih sayangnya. Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap basah di rumahnya, sebaliknya pencuri itu dibiarkan pulang dengan aman, bahkan beliau berpesan kepada pencuri agar mampir lagi kalau ada waktu.

Sikap tawadhu' sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu Atha'illah dalam kitab Al-hikam; "Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidak terkenalan)", artinya janganlah menonjolkan diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam kehidupan kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa.

Kiai Hamid wafat pada tahun 1985 juga dikenal sebagai orang yang dermawan. Biasanya, orang kalau memberi pengemis dengan uang recehan 500-1000 rupiah, tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau kalau memberi tidak melihat berapa uang yang dipegangnya, langsung diserahkan. Kalau tangannya kebetulan memegang 5000an, ya uang itu yang diberikan kepada pengemis. Tak hanya bentuk uang, tapi juga barang. Dan mengenai cerita kedermawanan sang Kiai sangat banyak, baik dituturkan oleh keluarga, santri maupun tetangga semasa hidup beliau.

Sun, 29 Sep 2019 @16:31


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno