image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Keistimewaan dan Karomah Kiai Hamid

Kiai Abdul Hamid begitu nama pria yang dilahirkan pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Abdul Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri, ayahnya Kiai Umar adalah seorang ulama Lasem dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq dan juga Ulama Lasem. Kiai Shiddiq adalah ayah KH Machfudz Shiddiq, tokoh NU.

Kiai Abdul Hamid, sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai, dia mula-mula belajar Alqur'an dari ayahnya. Tiga tahun kemudian, Kiai Abdul Hamid menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH Shiddiq, di Talangsari, Jember, Jawa Timur.

Sejak kecil, sudah tampak tanda-tanda bahwa beliau bakal jadi dan ulama besar. Konon pada usia 6 tahun, beliau sudah bertemu dengan Rasulullaah SAW. Dalam kepercayaan yang berkembang di kalangan warga NU, khususnya kaum sufi, Rasulullaah SAW walau telah wafat sekali waktu menemui orang-orang tertentu, khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja, tetapi secara nyata.

Salah satu karomah dari Kiai Abdul Hamid yang di percaya warga Pasuruan adalah bisa berada di tempat lain dengan wujud yang serupa. Hal ini terjadi saat Habib Baqir Mauladdawilah bertandang ke pesantrennya. Sang Habib yang pernah berguru al-Ustadzul Imam al-Habr al-Quthb al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih diberikan ilmu untuk bisa melihat sesuatu yang gaib.

Pindah Tempat dalam Sekejap

Pada suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui Kiai Abdul Hamid di Pasuruan. Ketika itu di tempat Kiai Abdul Hamid banyak sekali orang yang datang untuk meminta doa atau keperluan yang lain. Setelah bertemu Habib Baqir kerasa kaget, ternyata orang yang terlihay seperti Kiai Abdul Hamid sejatinya bukanlah sang Kiai. Karena yang ditemuinya adalah sesosok gaib yang menyerupai. Kemudian Habib Baqir mencari di manakah sebetulnya Kiai Abdul Hamid yang asli berada.

Setelah diselidiki dengan ilmu kanuragan, Habib Baqir terkejut karena sang Kiai tersebut tengah berada di Tanah suci Mekkah. Karomah Kiai Abdul Hamid juga pernah  di tunjukkan terhadap Habib sepuh yang datang kepadanya, karena sang Habib menanyakan kemana sang Kiai pergi ketika digantikan oleh sesosok gaib yang menyerupainya.

Kiai Abdul Hamid tidak menjawab, hanya langsungm memegang Habib sepuh tersebut. Seketika itu kagetlah Habib sepuh tadi, melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi bangunan masjid yang sangat megah. Subhanallah, ternyata Habib sepuh tadi di bawa oleh Kiai Abdul hamid mendatangi Masjidil Haram.

Daun Bisa Jadi Uang

Salah satu karomah lainnya yaitu ketika Asmawi, salah seorang santrinya harus melunasi hutang kepada panitia pembangunan masjid yang sudah jatuh tempo. Besarnya Rp. 300.000, cukup besar untuk ukuran waktu sekitar 70-an.

Dia tidak tau dari mana uang sebanya itu bisa di dapat dalam waktu singkat. Karenanya, dia hanya bisa menangis, malu kalau sampai ditagih. Akhirnya dia mengadukan hal tersebut kepada Kiai Abdul Hamid. Kemudian dengan lembut sang Kiai yang lantas menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman depan rumah Pak Kiai. Di sana ada dua pohon kelengkeng. "Kumpulkan daun-daun yang gugur itu dan bawa kemari", kata Kiai Abdul Hamid.

Setelah menerima daun kelengkeng itu, Kiai Abdul Hamid memasukkannya ke dalam saku baju. Ketika ditarik keluar, ditangannya tergenggam uang kertas. Kemudian dia menyuruh  Asmawi melakukan hal yang sama tapi pada pohon kelengkeng yang lainnya. Dengan cara yang sama pula, daun kelengleng itu berubah menjadi uang kertas. Setelah dihitung Asmawi, jumlahnya Rp. 225.000, masih kuramg Rp. 75.000. Tiba-tiba datang seorang tamu menyerahkan uang tunai sebesar Rp. 75.000 kepada Kiai Abdul Hamid, lalu uang itu diserahkan ke Asmawi.

Lain lagi yang dialami Said Ahmad, santri lainnya. Dia justru seolah ingin menguji kewalian Kiai Abdul Hamid yang telah kesohor. Said Ahmad ingin tahu, apakah Kiai Abdul Hamid tahu bahwa dia ingin diberi olehya. Ketika sampai di pesantren milik sang Kiai, kebetulan saat shalat Isya sudah masuk. Dia pun ikut shalat berjama'ah.

Usai shalat, dia tidak langsung pulang, melai kan menunggu sampai jamaah pulang semua. Lampu teras Kiai Abdul Hamid pun sudah di padamkan, pertanda pemilik rumah siap-siap beristirahat. Dengan demikian, dia pikir niatnya berhasil, yaitu bahwa keinginannya untu di tawari makan oleh Kiai tidak diketahui.

Lalu dia pun melangkahkan kaki meninggalkan masjid, ternyata dari rumah Kiai Abdul Hamid ada yang melambaikan tangan kepadanya. Dengan langkah ragu, diapun mendekatinya. Ternyata tuan rumah sendiri yang memanggilnya. " makan di sini ya" kata Kiai Abdul Hamid sambil senyum. Diapun diajak masuk keruang tengah. Disana hidangan sudah siap tersaji, "maaf lauknya cuma seadanya", kata Kiai Abdul hamid santai. Sampean tidak bilang-bilang sih," Said tersindir. Dan sejak itu dia percaya, Kiai Abdul Hamid adalah seorang Wali.

Tue, 1 Oct 2019 @22:20


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno