image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Kisah Tiga Santri Sunan Kudus Menjalankan Tugas Dakwah Membangun Pemukiman Islam di Hutan

Setelah Kesulthanan Demak Bintoro mengalami kejayaan, maka Sunan Kudus bebas melakukan dakwah di daerahnya. Dakwahnya bukan lagi sembunyi-sembunyi atau menggunakan siasat, tapi sudah dengan cara terang-terangan. Sebab penduduk Kudus kota sudah masuk Islam semua, tinggal di daerah pedesaan dan sekitar hutan yang belum memeluk agama Islam.

Sunan Kudus meskipun usianya sudah lanjut, tapi beliau tetap terus menerus berdakwah dalam menyebarkan ajaran agama Islam di daerah pelosok-pelosok desa sekitar kawasan Kudus dengan dibantu oleh santri-santrinya.

Waktu itu, Sunan Kudus mengutus 3 orang santrinya yang telah memiliki kedalaman ilmu agama yang cukup tinggi untuk berdakwah di daerah tersebut. Santri tersebut yaitu, Muhammad Jaelan, Abdullah Mufakkatan dan Raden Jolodoro cucu Sunan Muria.

Harapan Sunan Kudus dalam penyebaran agama Islam ini dilakukan bukan hanya di sekitar daerah Kudus saja, tapi di daerah pedalaman yang selama ini sulit dijangkau. Ketiga santri tersebut sepakat model dakwahnya menggunakan pendekatan budaya dan seni serta menghormati adat istiadat masyarakat setempat, tidak menggunakan kekerasan dan senjata.

Mereka bertiga oleh Sunan Kudus di perintahkan ke arah barat dari pusat Kudus. Tiga orang santri tersebut disertai santri-santri lainnya, karena nantinya akan membentuk sebuah perkampungan desa sebagai pusat dakwah.

Rombongan santri dengan tiga orang pimpinan melewati hutan keluar hutan. Hingga merekapun akhirnya sampai di sebuah hutan yang cukup lebat untuk istirahat. Karena tidak menggunakan alat transportasi seperti kuda, melainkan berjalan kaki. Abdullah selaku pimpinan rombongan santri meminta kepada seluruh santri beristirahat untuk melepaskan lelah dan menjalankan kewajiban sholat.

Kemudian Abdullah, Muhammad Jaelani  dan Raden Jolodoro mencari tempat untuk menunaikan ibadah dan memohon petunjuk dari Allah SWT di tengah-tengah hutan yang agak gelap, karena sinar matahari tidak mampu menembus lebatnya daun. Dalam do'anya Allah SWT memberikan petunjuk kalau di hutan tersebut harus dijadikan pemukiman dan lahan pertanian.

Keesokan harinya mereka bertiga mengadakan pertemuan untuk membahas tentang petunjuk yang telah diterima. Setelah adanya mufakat maka pada hari yang telah ditentukan dan disepakati. Kemudian pembabatan hutan pun dimulai dan Muhammad Jaelani yang diminta untuk memimpin para santri membabat hutan, sedangkan Abdullah dan Raden Jolodoro pun ikut membantu dengan giat dan dengan bergotong royong. Tidak lama kemudian hutan yang tadinya lebat telah dibabat dan diatur untuk pemukiman dan lahan pertanian.

Saat melakukan pembabatan itu ditemukan pohon yang harum baunya, pohon tersebut adalah pohon Garu. Dari situlah akhirnya pemukiman yang ditempati dinamakan Desa Garung. Seluruh rombongan mendapatkan tanah sesuai dengan kerja kerasnya membabat hutan. Pembagian pun dibagi secara adil kepada semua warga yang ikut serta dalam membangun perkampungan tersebut.

Abdullah sebagai pimpinan pun segera memanggil Muhammad Jaelani dan Raden Jolodoro untuk membahas rencana ke depan pemukiman yang baru dibangun tersebut. Mereka berrtiga berdiskusi tentang tugas dakwah dengan membangun pusat studi Islam dan membangun masjid sebagai sarana dakwah dan mengajarkan ilmu keagamaan pada para penduduk, tidak lama kemudian dibangunlah masjid terbuat dari kayu.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun dan perkampungan baru semakin ramai. Muhammad Jaelani meminta pada Abdullah untuk mendirikan pasar sebagai pusat perekonomian dan sebagai sarana untuk agar bisa berhubungan dengan Kadipaten Kudus. Selain itu, diminta untuk sowan ke Kudus guna memberitahukan mengabarkan tentang berdirinya pemukiman yang didirikan santr-santri Sunan Kudus. Abdullah pun menyutujui apa yang disarankan oleh Muhammad Jaelani.

Abdullah pun berangkat di ikuti beberapa santri untuk menghadap Kanjeng Sunan Kudus. Sesampainya di Kudus, Abdullah pun segera menghadap dan melaporkan seluruh hal yang terjadi dari awal sampai akhir. Dan Sunan Kudus pun memerintahkan Panembahan Kudus selaku putranya untuk turut serta melihat desa Garung yang telah ramai. Setelah beberapa lama kemudian tempat tersebut maju dengan adanya pasar dan pengakuan dari Kudus.

Kegiatan warga semakin terarah dengan bertani, berdagang dengan berdasarkan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh ketiga pimpinan mereka. Masyarakat hidup rukun damai dan sejahtera, kehidupan beragama dan saling bertoleransi dengan umat lain pun digalakkan.

Berbagai disiplin ilmu diajarkan oleh ketiga santri Sunan Kudus, baik ilmu agama, sosial, seni, budaya, perdagangan, pertanian dan keprajuritan. Pada masa itu banyak dari pemuda warga Garung menjadi pedagang, petani, seniman serta prajurit di kadipaten Kudus serta Jipang Panolan. Muhammad Jaelani, Abdullah dan Raden Jolodoro kemudian hari mendapat gelar dari masyarakat dengan sebutan Kiai. Santri tiga tersebut terus menerus penyebar agama Islam dan pembimbing masyarakat di Desa Garung dan sekitarnya hingga akhir masa Kesulthanan Demak Bintaro.

Pusat Dakwah

Masa awal terbentuknya pemukiman Abdullah mendapat julukan Mbah Dul Mufakkatan, karena sifat beliau yang mengedepankan asas musyawarah untuk mencari mufakat dalam berbagai urusan.

Seumur hidup tinggal di desa Garung hingga meninggal dunia, makam beliau bertiga dimakamkan di desa Garung Lor, kecamatan Kaliwungu Kudus dan masih di keramatkan oleh warga sekitar. Bahkan di makam Kiai Jolodoro yang berada di dusun Tersono desa Garung Lor setiap tahunnya diadakan upacara ganti Luwur. Jasa beliau bertiga sangatlah besar dalam perkembangan Islam untuk membantu perjuangan Kanjeng Sunan Kudus.

Kini desa Garung yang sekarang telah dibagi menjadi menjadi dua kelurahan atau desa, yaitu desa Garung Lor dan Desa Garung Kidul, yang terdiri dan terdiri dari beberapa pendukuhan sesuai dengan perkembangan sejarah dan pemukiman setelah kepemimpinan tiga tokoh pertama, dan Islam pun semakin berkembang. Tempat-tempat  pendidikan pun semakin banyak hingga saat ini.

Lokasinya terletak di antara dua jalan utama menuju kota Jepara. Disebelah selatan jalan begitu hijau dengan area persawahan. Dan disebelah utara, pemukiman penduduk yang tertata dengan rapih dengan jalan-jalan yang sudah beraspal.

Tue, 15 Oct 2019 @11:16


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno