image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Sayyid Jamaluddin Al-Afgani Pencetus Pan Islamisme

Sejak usia belia, beliau telah dididik ayahnya ilmu agama Islam dengan kuat. Menginjak usia remaja mempelajari ilmu pengetahuan tentang bahasa asing dan ilmu eksakta. Setelah dewasa dan kealimannya, ia dpercaya oleh Sulthan Mesir, Persi dan Turki menjadi pejabat. Meskipun demikian, tidak menjadikan dirinya tunduk kepada para Sultan. Pemikiran dan pembaharuannya terhadap umat Islam terus diajarkan kepada murid dan masyarakat. Pan Islamisme menjadi cita-citanya. Demi cita-citanya, dia rela dicopot dari jabatnnya dan diusir Sultan yang dulu mempercayainya.

Sayyid Jamaluddin Al-Afgani adalah salah seorang tokoh Islam terkemuka dan pemimpin pembaharuan dalam Islam. Beliau dilahirkan di Qabul Afganistan pada tahun 1839 M, anak dari Satar, keturunan bangsa Arab asli. Karena nenek moyangnya banyak berdiam di Hijaz, maka beliau bermadzhab Hanafi.

Beliau juga masih ada nasab yanga bersambung sampai kepada Husain bin Ali bin Abu Thalib. Di samping nama Al-Afgani, baliau juga dikenal dengan nama Asadabadi. Nama Al-Afgani dinisbatkan kepada negeri kelahirannya, sedangkan Asdabadi dinisbatkan kepada desa kelahirannya.

Sejak masa kanak-kanak dalam usia 8 tahun, ayahnya telah mengajar dan mendidiknya dengan berbagai ilmu tentang agama Islam. Diusia 18 tahun, beliau mempelajari ilmu-ilmu aqliyah seperti mantiq, filsafat, politik, bahasa persia, bahasa Prancis dan ilmu eksakta. Pada usia 22 tahun, beliau sudah bekerja dilingkungan istana Afganistan. Kemudian tahun 1864 M diangkat menjadi penasehat Sir Ali Khan dan diangkat menjadai Perdana Menteri oleh Muhammad A'zam Khan.

Tapi tahun 1869 M, beliau memulai pengembaraannya ke luar negeri. India merupakan tujuan utamanya. Kemudian setekah Inggris menjajah India, beliau melanjutkan perjalanan ke Mesir tahun 1871 M, dan menjauhi urusan politik untuk berkonsentrasi ke bidang ilmiah dan sastra Arab.

Di Mesir beliau memberikan kuliah dan mengadakan diskusi. Pesertanya orang-orang terkemuka dalam bidang pengadilan, dosen, mahasiswa dari Al-Azhar. Diantara murid beliau yang kemudian menjadi pemimpin kenamaan seperti Muhammad Abduh bin Sa'ad Zaghlul.

Selama 8 tahun beliau menetap di Mesir dan mempunyai pengaruh yang tidak kecil bagi umat Islam, ia juga membangkitkan gerakan berpikir. Kemudian kembali ke lapangan politik pada tahun 1879 M, melihat adanya campur tangan Inggris dalam politik. Partai politik yang diikuti adalah Hidzb Al-Watani (Partai Nasional). Dengan partai ini beliau berusaha menanamkan kesadaran nasionalisme dalam diri masyarakat.

Tapi sayang beliau mendapatkan tantangan dari Sulthan Taufik Raja Mesir. Kemudian dibuang ke Paris. Di negara tersebut mendirikan sebuah perkumpulan bernama Al-Urwah Al-Wusqa (Ikatan yang kuat). Anggotanya terdiri dari orang-orang Islam yang datang dari Indai, Mesir, Suria dan Afrika Utara. Tujuan perkempuluan yang didirikan adalah memperkuat rasa persaudaraan Islam, membela Islam dan membawa umat Islam kepada kemajuan.

Beberapa tahun kemudian Sultan Abdul Hamid II, penguasa Turki Usmani mengundangnya untuk menetap di Istambul. Karena Sultan membutuhkan pemikirannya tentang Al-Jami'ah Al-Islamiyah atau Pan Islamisme (Persatuan Umat Islam Sedunia). Tetapi pemikiran Al-Afgani yang demokratis tidak sejalan dengan Sultan yang masih mempertahankan otokrasi lama. Karena Sultan Turki itu takut akan meluasnya pemikiran Jamaluddin Al-Afgani, maka penguasa Turki Usmani itu membatasi geraknya dan tidak boleh keluar dari Istanbul. Jamaluddin Al-Afgani meninggal di Istanbul pada tahun 1897 M.

Beliau memiliki pandangan yang cukup mendasar dalam hal pembaharuan ISlam. Yaitu Islam adalah agama yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan. Adanya konsep interprestasi di dalam rangka menyelesaikan pertentangan ajaran Islam itu diperlukan ijtihad dan pintu ijtihad baginya terbuka.

Selanjutnya beliau mengatakan, kemunduran umat Islam bukanlah karena Islam, tetapi karena umat Islam sendiri yang telah meninggalkan ajaran-ajaran islam dan menerima ajaran-ajaran dari luar selain ajaran-ajaran Islam.

Mon, 28 Oct 2019 @16:23


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno