image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Sunan Gunung Jati Disebut Wali Qutub di Zamannya Merunut Keberadaan dan Ajaran Wali Qutub di Tanah Jawa

Kisah ini dikutip dari buku Babad Tanah Cirebon, karya PS Sulendraningrat, yang menjelaskan tentang perjalanan Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Diceritakan di negara Mesir sang raja Syarif Hidayatullah sedang sendirian dalam gedung perpustakaan membaca kitab Usul Kalam yang sangat terperinci /halus, jeng maulana sudah menerima/menangkap tersiratnya kitab yang dibaca itu, sehingga timbul rasa sungguh-sungguh berkehendak berguru kepada Nabi Muhammad SAW, walaupun menurut kabar dan memang kenyataannya Nabi Muhammad SAW telah tiada, tetapi Allah SWT lebih punya kuasa.

Maulana Sulthan Syarif Hidayatullah segera keluar dari gedung perpustakaan itu lalu menghadap ibunya (Nyai Rara Santang) atau Syarifah Mudaim, datang sudah dihadapannya segera berkata :"Duhai ibu mohon izin, ananda akan berguru kepada Maulana Nabi Muhammad SAW, hendak ananda cari dimana adanya".

Sang ibunda merangkulnya dan berkata " Mas sayang putraku, seyogyanya ananda tau Maulana Nabi Muhammad SAW sudah tiada, bahkan sudah turun yang ke 22 kepada ananda, lebih baik bergurulah kepada Awliya, para Ulama mana saja yang ananda pilih dan ananda sukai, janganlah ananda cari yang sudah tiada".

Sang putra memaksa karena tidak tahan, segera memohon pamit meneruskan perjalanannya pada tanggal 5 jumadil awal 1466 M, sang ibu menangis gelisah ditinggal sang putra.

Antara malam mimpi bertemu dengan sang suami Syarif Abdullah (almarhum) sultan Mesir berkata " hai adik Syarifah Muda'im, ikhlaskanlah, yang percayalah kepada Allah SWT, mudah-mudahan putra ananda menjadi punjul, baik dan berdoalah kepada Allah SWT, oleh karenanya ananda dahulu ingin mempunyai putra Waliyullah yang punjul Sebuana".

Syarifah Muda'im ingat kepada mimpinya, lalu bertobat kepada Allah SWT dan tekun memuji-Nya.

Diceritakan Maulana Syarif Hidayatullah yang sedang berjalan naik turun gunung, masuk hutan keluar hutan, lalu bertemu dengan Nagasaka yang besar sekali, Lidahnya mengeluarkan api menghadang perjalanan Maulana Syarif Hidayatullah sambil berkata: " Hai orang muda, engkau siapa dan apa kehendak engkau sehingga berjumpa denganku disini? Maulana Syarif berkata " Hai naga, aku sungguh putra Mesir, berkeinginan hendak berguru kepada Rasulullah SAW dan engkau naga tidak sama dengan sesamamu yang lain, engkau bisa berbahasa manusia? Sang Naga menjawab, saya ini bernama Yamlika, asal dari neraka pada zaman Nabiyullah Sulaiman A.S dan engkau jangan teruskan perjalanan ke Mekkah dan Madinah, karena Rasulullah SAW sudah sirna sempurna, kalau engkau sungguh-sungguh berjalanlah ke arah barat menuju pulau mejeti dan ini pisaka cupu manik. Engkau terimalah jika terawangkan mengetahui yang ghaib dan berkhasiat sebagai obat obatan walaupun sudah mati bisa dihidupkan kembali." Cupu diterima sudah, Maulana syarif Hidayatullah mematuhi perkataan Naga, segera pamit dan meneruskan perjalanannya ke arah barat lebih mantap kehendaknya serah diri kepada Allah SWT.

Diceritakan pendeta Ampini sedang berada di pinggir pulau Majeti hendak ziarah, namun sedang bingung dalam perjalanannya, tak lama kemudian datanglah Maulana Syarif, sang pendeta gembira dan berkata "Hai orang muda, siapa anda sehingga bertemu denganku di sini dan apa keinginannya?" Berkata Maulana Syarif "Saya putra Mesir, Syarif Hidayatullah namanya, berkeinginan hendak berguru kepada Rasulullah SAW", berkata pendeta "apa anda belum mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW itu sudah sirna sempurna (wafat) berabad-abad yang lalu, baiknya kita ziarah ke kuburnya Nabi Sulaiman A.S di pulau Majeti."

 

Ziarah ke Makam Nabi Sulaiman A.S

Maulana Syarif Hidayatullah mengikuti kehendak pendeta untuk berziarah bersama menuju makam Nabi Sulaiman A.S. tidak antara lama kemudian ada datangnya Nata Ula Naga yang besar sekali memghadang perjalanan mereka, Ki pendeta gemetar sambil berkata "Hidayatullah? Bagaimana daya upaya anda? Maulana Syarif Hidayatullah berkata: "Hai Naga harap minggir, aku sungguh putra Mesir dan hendak ziarah ke makam Nabi Sulaiman A.S" Sang Naga berkata "Hai anak muda, anda saya izinkan, namun saya minta disediakan air susu sekenyangnya sya, nanti setelah saya kenyang niscaya saya mabuk dan dari telinga saya akan keluar seperti lawe/kenthe (pusaka), ambillah untuk tumbal/penilak (senjata) dan rahayu dari bencana "Maulana Syarif Hidayatullah dan sang pendeta lalu bersusah payah mencari susu sekaleng besar lalu diminum sudah oleh naga.

Sang Naga lalu mabuk terbujur di tanah ternyata benar, Naga mengeluarkan pusaka dari telinganya, segera diambil oleh Maulana Syarif Hidayatullah lalu mereka meneruskan perjalanannya.

Jin, Ular, Iblis tidak berani mengganggu perjalanan hingga mereka selamat dari bahaya, sampailah Maulana Syarif Hidayatullah dan Pendeta di Makam Nabi Sulaiman A.S, Maulana Syarif Hidayatullah hornat dan khusyuk dalam ziarahnya, sementara Pendeta yang di kehendaki dalam ziarahnya adalah cincin maklukat Nabi Sulaiman A.S, Nabi Sulaiman A.S lalu memberi isyarat jari telunjuknya bergerak dan gelap menyambar Pendeta hancur sirna. Maulana Syarif hidayatullah terlempar keangkasa hingga jatuh disebuah puncak gunung, segera Maulana Syarif hidayatullah bertobat kepada Allah SWT karena menemani orang yang berlaku durjana, oleh karena murkanya Nabi Sulaiman A.S, Maulana Syarif Hidayatullah merasa mati. Setelah bertobat, Maulana Syarif Hidayatullah meneruskan perjalanannya dan berjumpa dengan seorang bertapa yang disisinya terdapat sebuah kendi.

Maulana Syarif Hidayatullah berkata: "Hai sang Pertapa, itu kendi milik siapa?" Sang pertapa membalas, "Entah, tatkala saya mulai bertapa, kendi itu sudah ada" lalu Maulana Syarif Hidayatullah bertanya kepada kendi, "Hai kendi, engkau siapa yang empunya milik, katena saya ingin minum?".

Kendi menjawab "saya kendi yang nerasal dari surga ada sejak zaman Nabi Nuh A.S, tuanlah pemilik saya". Dan diminumlah air kendi itu, namun tidak habis diletakkan, kendi itu lalu berkata "Tuan pasti menjadi raja seketurunannya, akan terapi tidak sampai terus, diselang/direbut (terjajah)" kendi itu lalu diminum lagi sehingga airnya habis, kendi berkata "selanjutnya negara tuan abadi tidak terjajah, tetap merdeka mulia negaranya" lalu kendi berkata lagi "saya kelak mengabdi kalau tuan sudah menjadi raja, Maulana Syarif Hidayatullah menjawab "iya semoga terlaksana".

Lalu kendi terbang keangkasa dan kembali ke asalnya, Maulana Syarif Hidayatullah merasa tenang, seluruh alam ghaib terlihat dan tubuhnya merasa sehat lagi berbau harum, sang pertapa terheran heran melihat kendi yang bisa berkata kata layaknya manusia dan bisa terbang ke angkasa, sang pertapa ingat sebuah petunjuk, segera cincin Merbun yang berwatak terangnya bangsa ghaib dan tujuh lapis bumi terlihat terang nyata dan bisa memuat seluruh isi alam di berikannya kepada Maulana Syarifhidayatullah, Maulana Syarif Hidayatullah menucap terimakasih lalu meneruskan perjalanannya.

Diceritakan ada seorang perempuan yang punjul sebuana ingin mengabdi, akan tetapi Maulana Syarif Hidayatullah tudak.mau menerimanya, karena mengetahui dari godaan ratu dunia. Segera meneruskan perjalanannya, tidak lama kemudian di hadang oleh seorang lelaki ingin mengabdi pula dan mendengar suara di angkasa yang indah merdu sekali. Maulana Syarif Hidayatullah tidak mau menerimanya, oleh karena itu adalah ratunya setan sewa dian yang ingin menggodanya...

 

Bersambung

Sun, 17 Nov 2019 @13:32


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Artikel Terbaru
Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2019 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno