image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Penyebar Islam di Padang Pariaman Ziarah Makam Wali Minang, Syekh Burhanudin

Menjadi penjaga, paku buminya wilayah itu di daerah Sumatera Barat, ada sejumlah wali. Salah satunya adalah Syekh Burhanudin. Masa hidup beliau antara tahun 1646-1694 M. Tidak panjang usianya hanya sekitar 48 tahun. Namun banyak ulama yang pernah belajar pada beliau.

Setelah wafat, jasad Syekh Burhanudin dimakamkan di Tapakis, Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Makam beliau adalah makam di Sumatera Barat yang paling ramai didatangi para peziarah. Peziarah berdatangan tidak hanya dari wilayah Sumatera Barat saja, tetapi juga dari seluruh Indonesia dan mancanegara.

Jarak makam Wali Allah ini, dari kota Padang sekitar 43,2 KM dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan. Lokasi makam Syekh Burhanudin berada di tepi jalan besar Jalan Pariaman Lubuk Alung - Pulau Air, apabila dari kota Padang maka mengambil jalan Padang - Bukit Tinggi lalu belok kiri mengambil Jalan Pariaman Lubuk Alung - Pulau Air.

Makam wali Allah, Syekh Burhanudin merupakan wisata ziarah yang menjadi tujuan pertama di Sumetera Barat. Secara pasti waktu kelahiran Syekh Burhanudin belum dapat ditegaskan. Namun, dari beberapa penulis sejarah diketahui, ia diperkirakan lahir awak abad ke-17 M.

Beliau belajar agama di daerah Tapakis Ulakan dengan Tuanku Madinah. Di Tapakis itu Burhanudin yang masa kecilnya bernama Pono bertemu dengan seorang teman orang Ulakan yang berasal dari Tanjung Medan yang bernama Idris bergelar Khatib Majolelo.

Sejak masa itu pula Ia mulai belajar agama sekaligus mengembalakan ternaknya. Seperti yang dikemukakan oleh Tamar Jaya (1965:285) pada masa itu penduduk masih mempunyai kepercayaan animisme dan belum meyakini adanya Tuhan.

Guru pertama Shekh Burhanudin adalah Tuanku Madinah atau Syekh Abdullah Arief, diduga sebagai pengembang Islam pertama di daerah ini. Syekh Abdullah Arief meninggal dunia pada tahun 1039 H/1619 M di Tapakis.

Setelah mendapatkan pendidikan dasar keagamaan di daerah perantauannya di Tapakis dengan Tuanku Abdullah Arief atau Tuanku Madinah, Pono melanjutkan pelajaran ke Aceh pada Syekh Abdurrauf yang saat itu sedang menjadi ulama dan mufti pada kerajaan Aceh.

Syekh Abdurrauf pulang belajar dari Madinah, Arab Saudi tahun 1039 H / 1619 M dan menetap di Singkil. Selama 2 tahun dari tahun 1039 - 1942 H / 1619 - 1621 M, Pono belajar pada Syekh Abdurrauf di Singkil, sebelum Beliau pindah ke Banda Aceh menduduki jabatan ulama dan mufti Kerajaan Aceh.

Imam Maulana penulis buku Mubaligul Islam menyebut, ada empat orang yang belajar bersama dengan Pono, yaitu Datuk Maruhun Panjang dari Padang Ganting Batu Sangkar, Si Tarapang berasal dari Kubung Tigo Baleh Solok, Muhammad Nasir dari Koto Tangah Padang dan Buyung Mudo dari Pulut-pulut Bandar sepuluh Pesisir Selatan.

Surau Tanjung Medan inilah surau pertama yang menjadi cikal bakal lembaga pendidikan agama di Minangkabau, sejenis pesantren di Jawa yang pada masa belakangan berkembang luas dan disebarluaskan oleh pengikut dan murid Syekh Burhanudin di Tanjung Medan Ulakan.

Surau Tanjung Medan juga menjadi suatu kampus Universitas yang disekitarnya didirikan surau-surau kecil yang dihuni oleh pelajar dari berbagai daerah di Minangkabau, Riau dan Jambi. Surau/tempat pendidikan dalam pengajaran agama Islam.

Sedangkan ilmu yang dipelajarinya boleh dikatakan semua ilmu yang ada pada gurunya, yaitu Fiqih, Tauhid, Hadits, Tasawuf dengan jalan Tarekat Syathariyah, ilmu Taqwim dan ilmu Firasat.

Paham keagamaan yang dipelajari Syekh Burhanudin dan kemudian dikembangkan di ranah Minangkabau melalui pusat pendidikan di surau Tanjung Medan Ulakan sudah dapat diduga bermadzhab Syafi'i dalam ibadah dan muamalah serta Ahlussunah Waljamaah dalam i'tikad.

Sedangkan dalam Tarekat Beliau jelas memakai tarekat Syathariyah yang memang dalam sejarah intelektual Syekh Abrurrauf, Ia adalah seorang Khalifah tarekat Syathariyah yang diterima dari gurunya Syekh Ahmad Qusyasi di Madinah.

Wed, 8 Jan 2020 @06:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Artikel Terbaru
Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2020 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno