image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Kisah Sahabat Nabi SAW Fairus Ad-Dailamy Penumpas Nabi Palsu di Yaman

Dari tiga tokoh pemurtadan agama Islam itu, diantaranya Aswad Al-Ansy adalah tukang tenung yang menyebar kejahatan dengan mengelabui mata korbannya dengan menggunakan musya'widz (semacam alat sulap untuk menyihir mata orang). Al-Ansy bertubuh kekar dan kuat, pandai bicara dan menyesatkan orang.

Ketika itu pemerintahan di Yaman dipegang oleh golongan Abna. Abna adalah nama bagi golongan masyarakat Yaman. Bapak mereka orang Persia yang merantau jauh dari negeri mereka, dan ibu-ibu mereka adalah orang Arab. Raja Yaman saat itu adalah Badzan. Ketika Islam meluaskan dakwahnya, Badzan menjadi Raja sekaligus kuasa Kisra, Maharaja Persia.

Orang yang mula-muka menjadi pengikut gerakan Aswal Al-Ansy adalah kaumnya sendiri, Bani Madzij. Dengan pengikut-pengikutnya itu, mula-mula Aswad menerkam Sana'a. Syahar putra Badzan yang menjadi raja setelah Badzan meninggal, dibunuhnya istri Syahar, putri Dadzan, dinikahinya dengan paksa, dan ia berkuasa di Yaman.

Dari Sana'a, Aswad Al-Ansy menyerang daerah-daerah lain, sehingga dalam tempo singkat daerah yang luas bertekuk lutut di bawah kekuasaanya, hampir mencapai seluruh daerah antara Hadramaut hingga Thaif, dan antara Bahrain hingga Aden.

Ketika Rasulullah mendapat laporan tentang gerakan Aswad Al-Ansy yang murtad dan merebut Yaman, beliau mengutus sepuluh orang sahabat pembawa surat kepada para sahabat yang pantas di Yaman. Isi surat tersebut memerintahkan mereka untuk bertundak menumpas bencana yang membahayakan Iman dan Islam. Beliau memerintahkan supaya menyingkirkan Nabi Palsu.

Setiap sahabat yang menerima surat perintah tersebut, segera tergugah untuk melaksanakannya. Orang yang mula-mula bertindak dan melaksanakan perintah Nabi adalah Fairus Ad-Dailamy. Ia adalah Sahabat Nabi SAW berasal dari Yaman, keponakan raja Badzan.

Fairus kemudian menemui putri Dadzan, saudara sepupunya. Setelah itu mereka berdua menemui Qais dan menunjukan surat Rasulullah SAW kepadanya. Mereka juga mengajak Qais segera bertindak sebelum terlambat. Qais dengan senang hati menerima ajakan mereka. Bahkan ia berjanji akan menumpas Aswad dari dalam.

Dadzan adalah puteri paman Fairus yang di kawini secara paksa oleh Aswad setelah membunuh suaminya, Syahar bin Badzan. Dialah yang memegang peran penting dalam pembunuhan Aswad sang Nabi palsu.

Dadzan lemudian menceritakan seluk beluk istana, ketika Fairus mengunjunginya. Ternyata tiap ruangan di istana Aswad dipenuhi para pengawal. Hanya saru bangunan dalan Istana itu yang tidak dikawal, yakni sebuah ruangan dalam puri. Kamar tersebut tidak kawal karena telah dikelilingi parit dan terletak agak jauh.

"Dari sini kearah puri itu ada lapangan, bila malam sudah mulai gelap, lubangilah dinding kamar itu, nanti kamu akan memperoleh senjata dan lampu di dalam. Aku akan menunggumu disana, sesudah itu masuklah kamu ke ruangan dalam, maka bunuhlah Dia! Kata Dadzana pada Fairus.

Tetapi melubangi dinding tembok seperti puri ini bukanlah pekerjaan mudah, jika kebetulan ada orang lewat, tentu dia akan berteriak memanggil pengawal. Akibatnya akan buruk sekali..." kata Fairus sedikit keberatan.

"Kamu benar! Tapi aku mempunyai pikiran lain yang lebih baik." Apa itu? bertanya Fairus. Besok pagi, kirim kepadaku seorang yang kamu percayai untuk menjadi pekerja. Aku akan menyuruhnya membuat lubang dari dalam, namun tidak sampai tembus. Tinggalkan setipis mungkin, supaya kamu dapat mencoblosnya dengan mudah pada malam hari" ucap Dadzan. Cara yang baik sekali, Fairus menjawab.

Setelah itu Fairus pergi menemui rekan-rekannya tentang rencana yang telah disepakatu dengan Dadzan. Merekapun menyiapkan segala sesuatunya, bertindak dengan sangay hati-hati dan rahasia serta menetapkan kata-kata sandi. Aksi akan dilakukan esok hari diwaktu fajar.

Ketika malam mulai gelap dan waktu yang telah ditentukan telah tiba, Fairus dan rekannya pergi ke tempat sasaran. Dinding yang dimaksud berhasil ditembus dengan mudah. Mereka kemudian masuk ke dalam gudang dan mengambil senjata yang telah disiapkan Dadzan.

Setelah itu mereka mengelilingi puri Aswad. Dadzan telah berdiri di depan pintu, dia memberi isyarat kepada Fairus dan kawannya. Begitu masuk kamar, mereka mendapati Aswad sedang tidur mendengkur. Kemudian Fairus mengayunkan pedangnya ke leher Aswad yang membuatnya melenguh seperti sapi, kemudian menggelepar-gelepar.

Ketika pengawal mendengar lenguhan Aswad, mereka datang ke puri lalu bertanya kepada Dadzan, "ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Kembalilah kalian! Nabi Allah sedang mendapat wahyu," kata Dadzan.

Para pengawal kembali tanpa kecurigaan sedikit pun. Fairus dan kawannya tetap berada di istana hingga fajar. Setelah terbit fajar, Fairus naik kesebuah pilar lalu berseru lantang, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Aswad Al-Ansy sesungguhnya adalah seorang pendusta!"

Kalimat terakhir adalah sandi yang telah mereka sepakati Fairus dan Kawan-kawan Muslimin lainnya. Mendengar teriakan Fairus, kaum Muslimin berhamburan ke istana dari segala penjuru. Para pengawal terkejut kebingungan. Perang tanding pun berkecamuk di pagi buta itu.

Fairus kemudian bergegas kembali ke puri dan mengambil kepala Aswad yang telah lepas dari tubuhnya. Begitu kembali ketengah pertempuran, ia langsung melempar kepala itu kearah para pengawal istana.

Melihat kepala Aswad menggelinding di hadapan mereka, nyali prajurit istana langsung ciut. Sebaliknya kaum Muslimin kian bersemangat menyerbu dan menyerang musuh-musuh Allah. Pertempuran pun usai, dengan kemenangan di pihak Muslimin.

Begitu matahari mulai menebar kehangatan dan cahanya, Fairus menulis surat kepada Rasulullah SAW, menyampaikan kabar gembira bahwa musuh-musuh Allah telah berpulang ke Rahmatullah," kata Fairus lirih.

Rasulullah SAW wafat tidak lama setelah menerima wahyu yang mengabarkan bahwa Aswad Al-Ansy telah terbunuh persis saat kejadian. Maka beliau bersabda kepada para sahabat, "Aswad Al-Ansy telah wafat tadi malam, dibunuh oleh orang yang penuh berkah dan berasal dari rumah tangga yang diberkahi."

"Siapa orang itu wahai Rasulullah?" Tanya para sahabat. Beliau menjawab , "Fairus... Fairus menang!"



 

 


Itu kisah Fairus Ad-Dailamy sang Penumpas Nabi Palsu.


Wed, 22 Jan 2020 @11:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Artikel Terbaru
Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2020 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno