image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
WORKSHOP / GATHERING
TESTIMONIAL & GALLERY KEGIATAN

Lencana Foto / Facebook
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372
081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA SUKMA JATI

SLINK

Ajaran Delapan Dalil & Martabat Tujuh Menyelami Nilai Religi & Spiritual Serat Wirid Hidayat Jati Karya Raden Ngabei Ronggowarsito

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati ini dijabarkan secara lengkap tata cara mengajarkan ilmu makrifat untuk kesempurnaan hidup seperti yang disebutkan oleh para wali. Ajaran Wali ini ada pada akhir kerajaan Demak sampai kerajaan wirid, yaitu:

1. Sunan Parapen, ajarannya tentang bisikan adanya zat,

2. Sunan Drajat, ajarannya tentang wahana,

3. Sunan Ngatasangin, penjelasannya tentang keadaan Zat,

4. Sunan Kalijaga, ajarannya tentang susunan Baitul Makmur,

5. Sunan Tambayat, ajarannya tentang singgasana Baitul Muharram,

6. Sunan Padusa, ajarannya tentang singgasana Baitul Muqaddas, 

7. Sunan Kududs, ajarannya tentang peneguh kesentosaan Iman,

8. Sunan Geseng, ajarannya tentang sasahidan (persaksian)

 

Nah wejangan (ajaran) itu semua memiliki satu sumber, yaitu ajaran Sunan Ampel. Kemudian setelah sampai zaman Mataram, Sultan Agung Anyakrakusuma berkeinginan menghimpun kedelapan tingkat ajaran tersebut supaya benar isi maksudnya. Wejangan yang telah disatukan tadi semuanya bersumber dari kutipan-kutipan kitab tasawuf. Masing-masing bersandar pada dalil ilmu sebagai petunjuk dalam menjelaskan firman Tuhan Yang Maha Suci, bahwa manusia adalah cerminan diri (Tajalli) Zat Yang Esa. Itulah yang menjadi inti ilmu makrifat, seperti yang diajarkan para Nabi dan para wali zaman dahulu.

Selanjutnya di dalam Wirid Hidayat Jati juga terdapat penjelasan tentang maksud ungkapan bisikan tentang Zat, khususnya Zat Yang Maha Suci meliputi sifat-Ku, menandai perbuatan-Ku sebagai berikut:

- Zat mengandung sifat seumpama madu dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan.

- Sifat menyertai Nama, seumpama matahari dengan sinarnya pasti tidak dapat dibedakan.

- Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin dengan bayangannya, pasti bayangannya akan mengikuti segala tingkah laku orang yang bercermin.

- Adapun perbuatan menjadi wahana Zat, seumpama samudra dengan ombaknya, pasti keadaan ombak mengikuti samuderanya.

Ajaran Martabat Tujuh

Ajaran martabat tujuh sebenarnya berasal dari kitab Tuffal al-Mursalat ila Ruh al-Nabi karya Muhammad Ibn Fadlullah al-Burhanpuri (wafat 1620) seorang sufi dari India. Adapun Ajaran Martabat Tujuh di dalam Wirid Hidayat Jati adalah sebagai berikut: 

1. Sajaratu Yakin, tumbuh dalam alam hampa yang sunyi, azali abadi, berarti pohon kehidupan yang berada di alam hampa yang sunyi selamanya. Itulah hakikat Zat mutlak yang qadim, hakikat Zat yang pasti paling dahulu, yaitu zat atma yang menjadi wahana alam Ahadiyah.

2. Nur Muhammad berarti cahaya yang terpuji. Diceritakan dalam haidts, seperti burung merak, berada dalam permata putih, pada arah sajaratul yakin. Itulah hakikat cahaya yang diakui sebagai tajalli zat, berada dalam gaib, merupakan sifat atma dan menjadi wahana alam wahdah.

3. Mir'atul Haya'i berarti kaca wira'i.Diceritakan dalam hadits, Mir'atul Haya'i berada dalam Nur Muhammad. Itulah hakikat pramana yang diakui rahsanya zat sebagai nama atma, dan menjadi wahana alam wahidiyah.

4. Roh Idlofi berarti nyawa yang jernih. Diceritakan dalam hadits, roh idlofi berasal Nur Muhammad. Itulah hakikat sukma yang diakui keadaan zat, merupakan perbuatan atma, menjadi wahana alam arwah.

5. Kandil berarti lampu tanpa api. Diceritakan dalam hadits, kandil berupa permata yang berkilauan cahayanya, tergantung tanpa ikatan. Itulah keadaan Nur Muhammad serta tempat berkumpul semua roh. Itulah hakikat angan-angan yang diakui sebagai bayangan zat, sebagai pemangku atma, menjadi wahana alam mitsal.

6. Dharrah berarti permata. Diceritakan dalam hadits, dharrah memiliki sinar benareka warna, satu tempat dengan malaikat. Itulah hakikat budi yang diakui sebagai perhiasan zat, pintu atma, menjadi wahana alam ajsam.

7. Hijab, dinding jalal, berarti tabir yang agung. Diceritakan dalam hadits, hijab timbul dari permata betraneka warna, ketika bergerak menimbulkan buih, asap dan air. Itulah hakikat jasad, merupakan tempat atma, menjadi wahana alam insan kamil.


 


Sun, 9 Feb 2020 @20:53


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Artikel Terbaru
Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2020 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno