image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
KEGIATAN & WORKSHOP
TESTIMONIAL & GALLERY FOTO

Facebook Instagram Youtube
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA PANGERAN SUKMA JATI

SLINK

KIsah Sahabat Nabi SAW Abu Ubaidah, Panglima yang Dijamin Masuk Surga

image

Siapakah sebenarnya Ubaidah ibnu Jarrah ini? Beliau lahir di Mekkah disebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah yang dijuluki dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah hati dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan, beliau disenangi oleh semua orang yang melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang.

Abu Ubaidah, Amir bin Abdillah ibnul Jarrah RA masuk Islam melalui Abu Bakar Shidiq di awal mula kerasulan, yakni sebelum Rasulullah SAW menjadikan rumah Arqam sebagai tempat dakwah. Ia ikut hijrah ke Habsyah (Etiopia) pada kali kedua, ia kembali pulang agar dapat mendampingi Rasulullah SAW di perang Badar, Perang Uhud dan pertempuran-pertempuran lainnya. Lalu sepeninggal Rasulullah SAW dilanjutkannya gaya hidupnya sebagai seorang kuat yang dipercaya mendampingi Abu Bakar RA dan kemudian Umar RA dalam pemerintahan masing-masing dengan mengesampingkan dunia kemewahan dalam menghadapi tanggung jawab keagamaan, baik dalam zuhud dan ketaqwaan, amanah dan keteguhan. Rasulullah SAW menjulukinya dengan sebutan Seorang yang Gagah dan Jujur. Rasulullah SAW dengan tangan kanannya memegang tangan ABu Ubaidah sambil bersabda, "Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang kepercayaan dan sesungguhnya kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah ibnul Jarrah.

Semenjak ia mengulurkan tangannya untuk bai'at kepada Rasulullah SAW, ia tidak memperhatikan kepentingan pribadi dan masa depannya. Seluruh kehidupannya dihabiskan untuk megemban amanat yang dititipkan Allah kepadanya dan dibaktikan pada ajaln-Nya. Tidak ada suatupun yang dikejar untuk kepentingan dirinya pribadi, dan tidak satu keinginan atau kebencian pun yang dapat menyelewengkannya dari jalan Allah SWT.

Maka tatkala Abu Ubaidah telah menepati janji yang dilakukan oleh para sahabat lainnya, dilihat pula oleh Rasulullah SAW sikap jiwa dan tata cara kehidupannya yang menyebabkannya layak untuk menerima gelar mulia yang diserahkan serta dihadiahkan Rasulullah SAW kepadanya, dengan sabdanya: "Orang kepercayaan Ummat ini, Abu Ubaidah ibnul Jarrah."

Amanat atau kepercayaan yang dipenuhi oleh Abu Ubaidah atas segala tanggaung jawabnya, merupakan sifatnya yang paling menonjol. Misalnya waktu perang Uhud, dari gerak gerik dan jalan pertempurannya, diketahui bahwa tujuan utama dari orang-orang kafir itu adalah bukanlah hendak merebut kemenangan, tetapi untuk menghabisi riwayat Nabi Muhammad SAW dan merenggut nyawanya. Ia berjanji pada dirinya untuk selalu dekat dengan Rasulullah SAW diarena pertempuran itu.

Maka dengan pedangnya, yang terpercaya seperti dirinya pula, ia maju kemuka merambah dan mendesak tentara kafir Quraisy yang hendak melampiaskan maksud jahat mereka untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Setiap suasana medan pertempuran memaksanya terpisah jauh dari Rasulullah SAW, ia tetap bertempur tanpa melepaskan pandangannya dari posisi Rasulullah SAW yang selalu diikuti dengan hati yang gelisah. Jika dilihatnya ada bahaya yang mengancam Nabi, maka ia bagaikan disentakkan dari tempatnya llau melompat menerkam musuh-musuh Allah dan mengusir mereka ke belakang sebelum mereka sempat mecelakai Rasulullah SAW.

Suatu ketika pertempuran berkecamuk dengan hebatnya, ia terpisah dari Nabi SAW karena terkepung oleh tentara musuh, tetapi seperti baisa kedua matanya bagai mata Elang mengintai keadaan sekitarnya. Hampir saja ia gelap mata, melihat sebuah anak panah meluncur dati tangan seorang tentara Quraisy yang mengenai Nabi SAW. Terlihatlah pedangnya yang sebilah itu berkelibatan, tak ubah bagai seratus bilah pedang menghantam musuh yang mengepungnya sampai mencerai beraikan mereka, lalu ia terbang mendekatkan Rasulullah SAW. Didapatinya darah beliau yang suci mengalir dari wajahnya dan dilihatnya Rasulullah SAW Al-Amin, menghapus darah dengan tangan kanannya, sambil bersabda: "Bagaimana mungkin berbahagia suatu kaum yang mencemari wajah Nabi mereka, padahal ia menyerunya kepada Tuhan mereka."

Abu Ubaidah melihat dua buah mata rantai baju besi penutup kepala Rasulullah menancap di kedua belah pipinya, Abu Ubaidah tak dapat menahan hatinya lagi, ia segera menggigit salah satu mata rantai itu dengan gigi manisnya lalu menariknya dengan kuat dari pipi Rasulullah sampai tercabut keluar, tetapi bersamaan dengan itu, tercabut pula sebuah gigi manis Abu Ubaidah, llau ditaiknya mata rantai yang kedua dan tercabut pulalah gigi manis Abu Ubaidah yang kedua.

Abu Bakar Shidiq berkata menceritakan perisyiwa itu: "Diwaktu perang Uhud dan Rasulullah SAW ditimpa anak panah sampai dua belah pipinya bagian atas, saya segera berlari mendapatkan Rasulullah SAW kiranya da seorang yang datang bagaikan terbang dari jurusan timur, maka kataku: "Ya Allah moga-moga itu merupakan pertolongan." Dan kala kami sampai pada Rasulullah, kiranya orang itu adalah Abu Ubaidah yang telah mendahuluinya kesana dan katanya, "Atas nama Allah, saya minta kepada Anda wahai Abu Bakar agar saya dibiarkan mencabut besi itu dari rahang Rasulullah SAW." Saya pun membiarkannya, maka dengan gigi mukanya Abu Ubaidah melepaskan salah satu mata rantai baju besi penutup kepala beliau sampai ia terjatuh ke tanah, dan bersamaan dengan itu jatuhlah pula gigi muka Abu Ubaidah. Kemudian ditariknya pula mata rantai yang kedua dengan giginya yang lain sampai tercabut, menyebabkan Abu Ubaidah tampak dihadapan orang banyak bergigi ompong."

Ia telah mengikuti berbagai peperangan dan menjadi panglima perang, bersama Khalid bin Walid menundukkan Romawi. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ia menjadi panglima dan penguasa di Syiria. Kedudukannya sebagai panglima besar dan pemimpin tentara Islam yang paling banyak jumlahnya dan paling menonjol keperwiraannya serta paling besar kemenangannya, begitu pun sebagai wali negeri di wilayah Syiria yang semua kehendaknya terjadi dan perintahnya ditaati, semua itu tidak menggoyahkan ketakwaannya sedikitpun.

Abu Ubaidah termasuk sahabat Nabi yang Zuhud, ketika Amirul Mu'minin Umar bin Khattab datang berkunjung ke Suriah, kepada para penyambutnya ditanyakannya: "Mana Saudara Saya?" "Siapa?", ujar mereka. Abu Ubaidah ibnul Jarrah," katanya pula. Kemudian datanglah Abu Ubaidah yang kemudian dipeluk oleh Amirul Mu'minin, lalu mereka pergi bersama-sama kerumahnya. Maka tidak satupun perabotan rumah tangga ada di rumah itu, kecuali pedang, tameng serta pelana kendaraannya.

Sambil tersenyum, Umar bertanya kepadanya, "Mengapa tidak kau ambil untuk dirimu sebagaimana dilakukan oleh orang lain?" Maka jawab Abu Ubaidah, "Wahai Amirul Mu'minin, ini menyebabkan hatiku lega dan sempat beristirahat."

 

Wafatnya Abu Ubaidah

Abu Ubaidah bin Jarrah R.A ikut partisipasi dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu memiliki andil besar dalam setiap peperangan tersebut. Dia berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah dia berhasil menaklukan semua negeri tersebut. Ketika wabah penyakit ta'un merajalela di negeri Syam, Khalifah Umar bin Khattab r.a mengirim surat untuk memangil kembali Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menolak meninggalkan pasukannya. Dan akhirnya ia wafat akibat wabah penyakit.

Menjelang kematian Abu Ubaidah r.a dia berpesan kepada pasukannya, "Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan, jika kalian terima, kalian akan baik, "Dirikanlah Shalat, bayar zakat, puasalah bulan Ramdahan, berdermalah, tunaikan ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapapun seorang melakukan seribu upaya, dia pasti anak menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap hamba-Nya, oleh sebab itu mereka semua pasti akan mati. Dan orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat. Setelah itu, Abu ubaidah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Abu Ubaidah wafat pada tahun 18 H dalam usia 58 tahun, dan jasadnya dikebumikan di Syam yang kini dikenal dengan sebutan lembah Yordania.

 

 

PADEPOKAN INTI SEMESTA

Profile Kami klik di sini

Mau belajar spiritual dan metafisika langsung dengan ahlinya? Ayo gabung bersama Kami. Pusat Gemblengan spiritual dan metafisika untuk private dan publik. Dapatkan juga produk-produk spiritual dan supranatural kami di link berikut...

www.padepokanintisemesta.com 

Email: pangeransukmajati@yahoo.com

IG: @pangeransukmajati

Youtube: Pangeran Sukmajati

Office:

Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat.

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB
Simpati Hp. 081296609372 (WA) dan XL 081910095431.

Guru Besar Pangeran Sukma Jati

Sun, 3 May 2020 @09:23


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2020 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno