image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
KEGIATAN & WORKSHOP
TESTIMONIAL & GALLERY FOTO

Facebook Instagram Youtube
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA PANGERAN SUKMA JATI

SLINK

Kisah Sahabat Nabi SAW, IMRAN BIN HUSAIN, Ibadahnya Menyerupai Malaikat

Sayyidina Umar Bin Khaththab saat menjadi khalifah menunjuk Imran bin Husain senagai qadi pengajar ilmu Agama bagi penduduk Bashrah, dan sejak saat itu ia menetap disana. Di Bashrah, Imran bin Husain mengajarkan Agama dan meriwayatkan Hadits pada banyak ulama Tabi'in, termasuk diantaranya Ibnu Sirin.

Pada waktu perang Kbaibar tahun 629 M, ia datang kepada Rasulullah SAW untuk berbai'at. Dan semenjak ia menaruh tangan kananannya  ditangan Rasul, maka tangan kanannya itu memperoleh penghormatan besar. Ia pun bersumpah kepada dirinya tidak akan menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia.

Pertanda ini merupakan suatu bukti jelas bahwa pemiliknya mempunyai perasaan yang amat halus. Imran bin Husain merupakan gambaran yang tepat bagu kejujuran, sifat zuhud dan keshalehan serta mati - matian dalam mencintai Allah SWT dalam menaati-Nya.

Walaupun memperoleh taufik dan petunjuk Allah yang tiada kira, namun ia sering menangis mencucurkan air mata, "kenapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja", ia kerap meratap.

Kaum Muslimin takut kepada Allah bukanlah karena banyak melakukan dosa, setelah menganut Islam boleh dikatakan sedikit sekali dosa mereka. Mereka takut dan cemas karena menilai Keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadah, rukuk dan sujud, tetapi ibadah dan syukurnya itu belumlah memadai nikmat yang telah mereka terima.

Pernah suatu saat beberapa orang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, kenapa kami ini, bila kami sedang berada disisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala, tetapi bila kami meninggalkanmu dan berada dilingkungan keluarga, anak-anak dan dunia kami, maka kami pun telah lupa diri?" Rasulullah SAW menjawab: "Demi Allah, yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian selalu berada dalan suasana seperti itu disisiku, tentulah Malaikat akan menampakkan dirinya menyalami kamu, tetapi yang demikian itu hanya sewaktu-waktu".

Pembicaraan itu kedengaran oleh Imran bin Husain, maka timbullah keinginannya dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berhenti dan tinggal diam, sebelum mencapai tujuan mulia tersebut. Bahkan walau terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun, dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu. Ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan selalu dengan Allah Azza Wajalla.

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami Agama. Demikianlah, di Bashrah ia melabuhkan tirainya, dan tinggal disana hingga wafat. Beliau wafat pada tahun 52 H / 673 M. Maka ketika dikenal oleh penduduk, para penduduk berdatangan untuk mengambil berkah dan meniru teladan ketakwaannya.

Hasan Basri dan Ibnu Sirin berujar, "Tidak seorangpun di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang datang ke Bashrah, lebih utama dari Imran bin Husain".

Dalam beribadah dan berhubungan dengan Allah SWT, Imran bin Husain tak sudi diganggu oleh apapun. Ia menghabiskan waktu seolah-olah tenggelam dalam ibadah, hingga seakan-akan dirinya bukan lagi penduduk bumi. Seolah-olah ia adalah Malaikat, yang hidup dilingkungan Malaikat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya.

Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di kaum Muslimin, yaitu antara golongan Sayyidina Ali dan Muawwiyah, Imran bin Husain bersikap tidak memihak. Bahkan ia juga meneriakkan kepada ummat agar tidak campur tangan dalam perang tersebut, dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. "Aku lebih suka menjadi pengembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal, daripada melepas anak panah ke salah satu pihak, biar meleset atau tidak," katanya.

Dan orang-orang Islam yang ditemuinya, ia kerap berpesan, "Tetaplah tinggal di masjidmu, dan jika ada yang memasuki masjidmu, tinggallah di rumahmu, dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah dia!"

Keimanan Imran bin Husain membuktikan hasil gemilang, ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengganggu selama 30 tahun, tidak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh, bahkan tak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk ataupun berbaring.

Dan ketika para sahabatnya dan orang-orang yang menjenguknya datang dan menghibur hatinya terhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil berkata, "Sesungguhnya barang yang paling kusukai adalah apa yang paling disukai Allah," Dan sewaktu hendak meninggal, ia berwasiat kepada kaum kerabatnya dan para sahabatnya, "Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan!.

Memang sepatutnya mereka menyembelih hewan dan mengadakan jamuan, karena kematian seorang Mukmin seperti Imran bin Husain bukanlah merupakan kematian yang sesungguhnya. itu tidak lain dari pesta dan mulia, dimana satu ruh yang tinggi dan diridhai dibawa menghadap-Nya.


Mon, 12 Oct 2020 @21:35


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2020 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno