image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
KEGIATAN & WORKSHOP
TESTIMONIAL & GALLERY FOTO

Facebook Instagram Youtube
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA PANGERAN SUKMA JATI

Sejarah Berdirinya Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung (DIbangun Generasi Pertama Warga Tionghoa)

Klenteng tersebut bernama Tempat Ibadah Tri Dharma Tjoe Tik Kiong atau biasa disebut dengan Klenteng Tjoe Tik Kiong. Klenteng ini terletak di jalan Wage Rudolf Supratman No. 10 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungangung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur.

Lokasi Klenteng ini berada di sebelah utara Hotel Panorama Tulungagung, dan mengahadap ke arah Sungai Ngrowo. Pada waktu dipindahkan, bangunan klenteng ini juga belum semegah sekarang, pembangunannya bertahap seiring terkumpulnya dana dari orang-orang Tionghoa yang merantau dan bermukim di Tulungagung.

Dikisahkan pada masa itu, orang-orang Tionghoa generasi pertama yang menetap di Tulungagung banyak yang berasal dari Tiongkok. Mereka ke Tulungagung guna berdagang melalui sungai Brantas yang ada di Surabaya, kemudian menyusuri hingga sampai bertemu dengan Sungai Ngrowo. Pada saat itu, di daerah Tulungagung Sungai Ngrowo merupakan sungai yang penting sebagai jalan lalu lintas yang menghubungkan daerah sebelah selatan dengan daerah sebelah utara.

Sebelum memasuki bangunan utama Klenteng, terdapat sebuah gerbang (shanmen) denan ornamen khas Tiongkok. Hanya saja, ornamen yang ada di atas gerbang tersebut tergolong tidak lazim seperti ornamen yang terdapat pada Klenteng-Klenteng yang ada di Indonesia.

Di bagian atas gerbang pada Klenteng Tjoe Tik Kiong ini terdapat hiasan dua ekor ikan berkepala naga yang saling berhadapan, mengapit huo zhu (mutiara bola api mili sang Budha). Konon, ikan yang menjadi hiasan di atas gerbang tersebut berkiatan dengan sejarah awal dibangunnya Klenteng ini.

Karena dulunya lokasi tempat dibangunnya klenteng ini merupakan daerah rawa yang banyak dihuni ikan, akhirnya untuk mengenang tempat awal didirikannya Klenteng Tjoe Tik Kiong.

Setelah melewati shan men, pengunjung akan melewati halaman depan Klenteng yang cukup luas yang sudah dipasangi paving block. Di halaman depan sebelah kiri terdapat tempat pembakaran kertas (kim lo) berbentuk pagoda, di depan bangunan utama klenteng terlihat kie kwa, menara tiang bendera berwarna merahyang dulu berfungsi sebagai penunjuk bagi arah nelayan bila sedang melewati rawa-rawa yang begitu luas.

Bangunan Utama KlentengTjoe Tik KIong terbagi menjadi 3 ruangan, ruangan pertama yang menempati bagian depan di pergunakan untuk membakar hio, disitu terdapat banyak lilin dari berbagai ukuran.

 

Pagoda

Seperti bangunan Klenteng pada umumnya, pada atap ruangan pertama terdapat beberapa ornamen.

Namun, untuk Klenteng ini memiliki ornamen yang berbeda. Di atas atap ruangan pertama, terlihat di tengah-tengah ada pagoda yang diiringi oleh dua huo zhu dan dua xing long (naga berjalan). Pada ruang pertama ini terdapat altar untuk persembahyangan kepada Hok Tek Tieng Sien (Dewi Bumi)dan Ka Lam Ya.

Ka Lam Ya adalah salah satu malaikat pintu versi Budha yang sering digambar (berpakaian perang lengkap dengan membawa kampak sebagai senjatanya) di daun pintu bersama-sama Wie Tho (berpakaian perang dengan membawa gada penakluk iblis), sebagai pelindung bangunan-bangunan suci atau Klenteng.

Ruang kedua yang berada di bagian tengah diperuntukkan untuk melakukan sembahyang kepada Kwan She Im Pho Sat (Dewi Welas Asih), Kong Tek Cun Ong (Raja Mulia yang memberi berkah berlimpah) dan Co Su Kong (Dewa yang berwajah hitam dari Cadas Air Jernih. Sedangkan ruang yang ketiga yang berada dibagian belakang digunakan untuk tempat kebaktian.

Di Klenteng ini yang menjadi Dewa utama adalah Mak Co Thian Siang Seng Bo. Mak Co Thian Siang Seng Bo merupakan Dewa Laut, penolong para pelaut serta pelindung etnis Tiongkok di wilayah selatan dan imigran di Asia Tenggara.

Pada 1979 Klenteng ini mengalami renovasi bangunan dan melakukan peninggian 1 sampai 2 meter karena lokasi Klenteng sering mengalami kebanjiran. Setelah renovasi selesai maka dilanjutkan dengan pembangunan gedung olahraga bola basket dan gedong olahraga bulutangkis pada juli 1983.

Klenteng Tjoe Tik Kiong yang merupakan Klenteng termegah dan besar di Tulungagung, terlihat terpelihara bangunannya. Hal ini tidak terlepas dari peran orang Tionghoa di Tulungagung yang masih peduli akan keberadaan Tempat Ibadah Tri Dharma ini,





Tue, 9 Feb 2021 @07:41


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2021 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno