image

Pangeran Sukma Jati

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
KEGIATAN & WORKSHOP
TESTIMONIAL & GALLERY FOTO

Facebook Instagram Youtube
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA PANGERAN SUKMA JATI

Ngerinya Kutukan Prasasti Satyapurna

Candi di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupatn Tulungagung Jawa Timur ini bila dilihat dari arah bangunan yang menghadap ke arah barat, dapat dipastikan bila Candi ini merupakan candi dengan corak Hindu dan difungsikan untuk pemujaan. Meski di belakang candi ini terdapat sejumlah makam kuno, namun dari data mengenai sejarah desa dapat dipastikan jika makam-makam tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan Candi Gambar.

Berdasarkan catatan yang ada dan angka tahun yang ditemukan dibeberapa bagian Candi. Dapat diketahui jika Candi ini dibangun pada masa menjelang akhir kerajaan Majapahit, yakni saat msa pemerintahan Raja Wikramawardhana. Sama dengan Candi-Candi dari era Majapahit lainnya, Candi Gambar juga dibangun dengan menggunakan batu merah. Meski demikian beberapa batu andesit yang diperkirakan merupakan bagian penyusun dari Candi juga terdapat di sana.

Bila dibandingkan dengan Candi-Candi lain yang ada di Tulungagung, Candi Gambar menyimpan banyak kelebihan. Candi ini tidak hanya menyimpan sesuatu yang unik, namun juga terdapat suatu hal yang mengerikan. Mengenai keunikan tentang Candi ini dapat dilihat dari panel relief yang ada pada beberapa bagian Candi, disitu digambarkan figur seseorang yang seperti sedang mengenakan topi. Panel relief figur bertopi ini telah menarik minat Lydia Kieven, seorang peneliti dari Jerman.

Menurut Lydia Kieven, sosok bertopi tersebut merupakan penggambar dari cerita Panji yang pernah populer pada masa pembangunan Candi. Sejumlah relief masih tersisa dan sisanya sudah banyak yang hilang, jika menurut arah bangunan cara pembacaan relief pada Candi untuk pemujaan dilakukan dengan pradaksina atau dibaca memutar dengan putaran yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Sayangnya hanya relief yang ada bagian kaki Candi saja yang tersisa, sednagkan relief ditubuh Candi yang diduga sambungan dari relief bagian bawahnya sudah lama hilang. Selain relief yang menggambarkan sosok bertopi, adanya relief berupa ikan juga menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Lydia Keiven dalam bukunya Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit (2016) disebutkan jika relief yang ada pada Candi Gambar ini dapat difungsikan sebagai cerminan situasi historis/politik aktual yang terjadi di masa itu. Dalam buku itu dikatakan jika menurut inskripsi termuda dengan berangka tahun awal abad ke-15 dapat diasumsikan jika Candi Mirigambar ini dibangun tidak sekali jadi. Maksudnya pembangunan dilakukan secara berlanjut, yakni mulai jauh sebelum masa Majapahit yakni masa Kediri sampai dengan masa menjelang akhir Majapahit. Bahkan dalam sebuah prasasti satyapura terdapat nama Wikramawardhana, sehingga diduga pembangunan terakhir dari Candi ini dilakukan pada masa Wikramawardhana yang memerintah di Majapahit pada tahun 1389-1429 M.

 

Kengerian Isi Prasasti Satyapura

Prasasti Satyapura merupakan prasasti yang dituliskan pada lempengan tembaga dan kabarnya ditemukan di sekitar Candi Mirigambar. Mengenai asal-usul dari prasasti ini ada dua pendapat yakni, pertama ada yang menganggap prasasti ini berasal dari luar dan sengaja di tempat di Candi Mirigambar, sedangkan yang kedua ada pihak yang menganggap bahwa prasasti tersebut memang sejak awal dituliskannya sudah berada di Candi Mirigambar.

Lempeng yang telah ditemukan dalam prasasti satyapura terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama menceritakan tentang perang dahsyat yang terjadi masa pemerintahan raja pengganti Hayam Wuruk yakni Wikramawardhana melawan Bhre Wirabhumi. Perang saudara dahsyat yang sarat akan serangan itu sampai membuat para prajurit yang gugur dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Banyak prajurit yang gugur dengan kepala pecah, usus yang terurai dan bagian tubuhnya terpotong-potong. Begitu mengenaskannya kondisi prajurit yang gugur. Di prasasti ini diibaratkan sang prajurit seperti telah diminum darahnya dan dimakan dagingnya.

Kemudian untuk isi prasasti dibagian kedua lebih mengarah kepada kutukan yang dibuat atau dikeluarkan oleh Raja Wikramawardhana. Adapun isi kutukan tersebut seperti jika berada di hutan akan dipatuk ular berbisa dan dimakan buaya, berada di tanah lapang akan disambar petir, dan akan menemui banyak kesukaran sepanjang hidupnya. Terkait tentang kepada siapa kutukan tersebut diberikan belum diketahui secara pasti karena lanjutan dan prasasti ini yang diduga dituliskan dalam lempeng tembaga lain sampai kini belum ditemukan.

 Kutukan dalam masyarakat Jawa memang telah memiliki ruang tersendiri. Kutukan ini kerap kali diberikan kepada mereka yang telah melakukan perbuatan jauh melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan dalam masyarakat. Kutukan tidak hanya diberikan melalui tutur lisan, namun juga dipahatkan dalam bangunan-bangunan suci masyarakat Jawa tempo dulu, dalam membuat kutukan biasanya disertai dengan menghancurkan telur dan memecahkan kepala ayam.

Tindakan tersebut sebenarnya merupakan gambaran sekaligus pengharapan agar mereka yang berani melanggar aturan yang telah ditetapkan akan mengalami nasib semacam itu. Kutukan atau supata dari masyarakat Jawa memang telah menjadi suatu hal yang sangat ditakuti oleh sejumlah kalangan. Sebab, keluarnya kutukan ini biasanya disertai dengan laku tertentuyang membuat kutukan tersebut menjadi kenyataan.

Terlepas dari semua itu, Candi Mirigambar dengan berbagai peninggalannya yang masih dapat dilihat wujudnya sekarang memang menjadi sesuatu yang layak dikaji lebih lanjut. Dengan penilitian lebih mendalam tentunya sedikit banyak misteri yang menyelubungi Candi ini akan dapat terpecahkan, sehingga fungsi sesungguhnya dari pembangunan ini dapat diketahui secara pasti.


Sun, 14 Feb 2021 @11:32


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2021 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno