image

Ki Sukma

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
KEGIATAN & WORKSHOP
TESTIMONIAL & GALLERY FOTO

Facebook Instagram Youtube
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA PANGERAN SUKMA JATI

Ada Gender Bukan Lelaki Juga Bukan Perempuan

image

Ada Gender Bukan Lelaki Juga Bukan Perempuan

Setiap mahluk termasuk manusia, pada umumnya hanya memiliki dua macam jenis kelamin, lelaki dan perempuan. Pembagian jenis kelamin ini dikenal di seluruh dunia yang kemudian dibarengi dengan tuntutan peran sosial yang kemudian disebut gender. Namun, dalam hal tradisi dan adat istiadat, tidak semua budaya memiliki pandangan yang sama dalam hal pembagian gender yang hanya dua itu. Ada beberapa masyarakat yang membagi gender dalam tiga, lima bahkan lebih. Suku Bugis di Sulawesi Selatan membagi masyarakat mereka menjadi 5 jenis kelamin yang terpisah yakni;

1. "Oroane" artinya pria atau lelaki, biasanya jenis kelamin ini dituntut harus maskulin dan mampu menjalin hubungan dengan perempuan.

2. "Makunrai" artinya wanita atau perempuan. Mereka kerapkali dituntut untuk menjadi feminin, jatuh cinta dan bersedia menikah dengan lelaki, mempunyai anak dan mengurusnya serta wajib melayani suami.

3. "Calalai" sebagai gender ketiga yang diakui dalam kebudayaan Bugis. Calalai ini perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki, Calalai biasa juga disebut perempuan Maskulin/ tomboy. Bahasa Makassarnya 'Balaki'.

Kelompok ini mengacu pada orang yang ditugaskan perempuan saat lahir tetapi mengambil peran laki-laki heteroseksual dalam masyarakat Bugis. Calalai individu yang tidak "bertransisi" seperti kebanyakan orang trans gender Barat, calalai hanya berpakaian dan menampilkan diri dalam mode maskulin pria.

4. "Calabai" merupakan salah satu dari 5 jenis kelamin dalam kebudayaan  Bugis. Calabai adalah laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan. Menurut sistem gender Bugis, calabai adalah 'wanita palsu'. Oleh karena itu, orang-orang ini umumnya laki-laki secara fisik tapi mengambil peran seorang perempuan heteroseksual. Mode dan ekspresi gender seorang calabai jelas feminin, tetapi tidak cocok dengan "khas" gender wanita.

"Jika ada acara pernikahan dalam masyarakat Bugis, sangat jarang calabai tidak dilibatkan dalam hal pengaturannya. Jika waktu pernikahan sudah disepakati, keluarga akan melibatkan Calabai dan menegosiasikan rencana pernikahan. Calabai akan bertanggung jawab untuk banyak hal: pengaturan dan dekorasi tenda, mengatur kursi pengantin, gaun pengantin, kostum untuk pengantin pria dan keseluruhan rangkaian pesta pernikahan (hitungan sampai 25), make up untuk semua yang terlibat dan semua makanan.

Sangat jarang Saya menghadiri pesta pernikahan yang tamunya kurang dari 1000 orang. Pada hari H, beberapa calabai ada yang tetap di dapur menyiapkan makanan sementara yang lainnya ada yang menjadi bagian dari penjemput tamu, menunjukkan tamu ke tempat duduk mereka".

5. "Bissu" sebagai gender ke lima berbeda dengan 4 gender yang lain. Mereka adalah golongan yang disebut 'bukan lelaki bukan pula perempuan'. Bissu atau kelompok orang-orang mistik dalam budaya Bugis mereka memiliki posisi yang sangat penting. Pada setiap upacara adat Bugis, mereka bertindak sebagai 'pendeta' atau 'pemangku adat'. Mereka masih menjaga teguh tradisi dan peran serta kebiasaan turun temurun nilai-nilai budaya bugis klasik dan diilustrasikan sebagai manusia setengah dewa yang mempunyai kekuatan supranatural.

Mereka memanfaatkan hubungan dengan dunia ghaib dan bertindak sebagai mediator dari roh  yang memasukinya. Setelah kerasukan barulah mereka dapat melaksanakan kegiatan upacara ritual, seperti Maggiri, yakni sebuah ritual menikam diri sendiri. Selain untuk perhelatan acara di kerajaan, peran komunitas bissu juga sangat dominan pada kegiatan adat seperti mappalili atau turun sawah.

Upacara tersebut dilakukan selama tujuh hari tujuh malam dengan membaca mantra mantera yang biasa disebut dengan Mattesu Arajang, yakni semacam ritual adat untuk memohon restu Dewata dilangit. Menurut pendapat para bissu, hanya dengan restu para Dewata, para petani dan masyarakat dapat memanen hasil tanam yang baik. Oleh karenanya, acara Mattedu Arajang juga dipandang sakral oleh masyarakat tradisional Bugis.

Posmo

Punya masalah hidup yang tak kunjung selesai? Temukan solusinya bersama Spiritualis Kondang Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma - Sobat Mistis Trans 7)

PRAKTEK DI 3 KOTA

Jakarta

Jl. Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan
Gedung Graha Krama Yudha
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB

Bandung (Pusat)

Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jl. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB

Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.

Banten

Jl. Ki Mudakkir, Link. Cigading, Cilegon - Banten.

Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.

Tlp/ Hp. 081296609372 (WhatssApp dan Telegram) dan 081910095431 (WhatsApp)

Wed, 15 Sep 2021 @07:55


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Artikel Terbaru
Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2021 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno