image

Ki Sukma

081296609372


Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jalan. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 08.00 s.d 17.00 WIB
KEGIATAN & WORKSHOP
TESTIMONIAL & GALLERY FOTO

Facebook Instagram Youtube
Chat dengan Pangeran

081910095431
081296609372

081296609372

Jam praktek: Pk. 10.00 s.d 17.00 WIB

SOCIAL MEDIA PANGERAN SUKMA JATI

Kisah Koalisi Jawara - Kiai di Era Revolusi Fisik

image

Kisah Koalisi Jawara - Kiai di Era Revolusi Fisik

Meski kemerdekaan RI telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, tetapi bukan berarti membuat para pendiri bangsa dan segenap pejuang kemerdekaan bersantai. Para pejuang, pemuda, tokoh-tokoh pergerakan dan seluruh rakyat Indonesia masih bersiaga penuh untuk berjaga-jaga atas timbulnya upaya-upaya yang dilakukan pihak penjajah baik itu dari pihak Belanda maupun pihak Jepang yang ingin menggembosi kemerdekaan Indonesia.

Mereka melakukan hal ini bukan karena ingin menduduki jabatan tertentu. Apa yang dilakukan oleh mereka dilandasi atas keikhlasan penuh. Mereka ingin kemerdekaan republik Indonesia yang masih seumur jagung dikala itu tetap terjaga, dan keberadaan Indonesia sebagai negara merdeka diakui oleh masyarakat dunia.

Saat era revolusi di awal tahun 1945 an terciptalah sebuah koalisi yang terbilang unik. Koalisi ini bertujuan  menjaga keberlangsungan kemerdekaan Republik Indonesia dengan berlandas pada kekuatan fisik dan kekuatan rohani (agama). Mereka yang tergabung dalam koalisi ini adalah para jawara dan para kiai yang memiliki ratusan dan bahkan ribuan pengikut yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Jawa.

Terciptanya koalisi ini telah berhasil membuat tentara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia ketar-ketir. Sebab, pihak Belanda tidak tahu siapa yang menjadi musuhnya dan kapan mereka akan diserang. Para pengikut Jawara atau santri dari para Kyai yang menentang keinginan Belanda untuk menjajah Indonesia lagi itu, jika dilihat sekilas tidak ubahnya masyarakat biasa yang menurut pandangan Belanda sama sekali tidak berbahaya.

Namun, dalam waktu sekejap mereka yang dianggap tidak berbahaya itu bisa menjelma menjadi sosok yang membahayakan dan tidak jarang mereka mampu membinasakan sejumlah  tentara Belanda, dengan cara yang tidak terduga. Biasanya mereka keris atau golok yang diselempitkan di dalam bajunya dan juga seringkali mereka menggunakan tangan kosong.

Yang paling membuat gentar adalah keberadaan orang-orang yang mampu membinasakan tenatra Belanda hanya dengan sekali pukul. Padahal jika menurut akal sehat peristiwa seperti ini tidak mungkin terjadi. Mengingat para tentara Belanda adalah orang-orang terpilih yang telah menjalani serangkaian latihan militer berat. Akan tetapi yang terjadi di masa itu sungguh di luar nalar. Orang-orang pribumi yang bertubuh kurus ceking, ibarat hanya tulang berbalut kulit mampu mengalahkan tentara Belanda yang gagah, tinggi, besar hanya dengan sekali pukulan.

Seringnya terdengar kabar semacam itu, lama-kelamaan membuat Belanda percaya bahwa orang yang berbadan kurus-ceking ini memiliki semacam jimat dan mantra-mantra sakti. Sebagai orang barat tentu tidak mudah  bagi pihak Belanda untuk meyakini hal semacam ini. Namun dengan melihat situasi yang ada di lapangan saat itu, mau tidak mauBelanda harus mengakui bahwa selain semangat untuk mempertahankan kemerdekaan, keberadaan jimat dan mantra-mantra sakti juga merupakan suatu hal yang harus ditakuti dari semua lapisan masyarakat Indonesia yang menentang upaya penjajahan yang hendak dilakukan oleh Belanda lagi.

Walau masih berada dalam ranah abu-abu, yakni antara kenyataan dan mitos, keberadaan jimat dan mantra-mantra yang digunakan oleh barisan rakyat selama revolusi fisik telah memiliki sejarahnya sendiri. Untuk membuktikan benar atau tidak bahwa  jimat dan mantra telah memberi sumbangsih tercapainya dan terjaganya kemerdekaan Indonesia hingga saat ini masih sulit untuk dibuktikan karena keduanya berada dalam ranah mistik dan spiritualisme.

Barisan rakyat yang menggunakan jimat dan mantra sakti ini apabila ditelusuri lebih jauh akan didapat bahwa mereka berasal dari dua golongan, yakni golongan santri dan golongan jawara (yang pro republik). Pada masa itu santri tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama tetapi juga diajarkan ilmu-ilmu beladiri yang kelak diharapkan dapat dipergunakan untuk berjihad melawan kesewenang-wenangan yang dilakukan Belanda. Sebaliknya para Jawara di masa itu juga tidak hanya diajarkan jurus-jurus sakti tetapi juga diajari ilmu agama yang cukup mumpuni.

Salah satu tokoh sentral yang banyak menyita perhatian di masa itu adalah H. Darip. Seperti yang ditulis Robert Cribb dalam buku Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945 -1949. terbitan Masup Jakarta, 2010, menyebut Muhammad Arif alias H Darip sebagai pentolan gerombolan di Klender yang memainkan peran utama dalam revolusi 1945 di Jakarta. Cribb juga menggolongkan Darip sebagai bandit nasionalis yang berperan signifikan dalam perjuangan revolusi sosial ketimbang sebagai oportunis seperti yang banyak dilakukan para bandit lainnya.

"Ia berhasil memadukan kriminalitas dan patriotisme, yakni hanya dengan menjarah orang-orang yang berkulit terlalu terang (Cina, Eurasia dan Eropa) atau terlalu gelap (Ambon dan Timor), tulis Cribb di halaman 68.

Berbeda dengan para kiai atau ulama lain yang mengelola pesantren, Haji Darip tidak. Hal itu menurut Ahmad Fadli H.S. Penulis buku ulama Betawi, 2011. Karena Darip harus berpindah-pindah bersama para pengikutnya dalam bersiasat menghadapi Belanda.

Pada saat terjadi revolusi fisik melawan Jepang dan Belanda. Darip bersama para sahabatnya, Haji Hasbullah, membentuk Bara (Barisan Rakyat). Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di Kota Jakarta. Saat Belanda menyerbu Klender, Darip dan pasukannya hijrah ke beberapa tempat, seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Dari tempat persembunyiannya dengan pangkat  letnan kolonel tituler ia bermarkas di Purwakarta dan menyusun strategi melawan NICA Belanda.

Menurut Cribb, saat menghadapi tentara Belanda, yang mendompleng sekutu pada Maret 1946, Haji Darip membagikan bambu runcing berkekuatan magis kepada para pengikutnya. Pada 1948, anak buahnya ada yang berkhianat sehingga Darip disergap Belanda di hutan jati daerah Sadang, Purwakarta, bukan di Cirebon seperti ditulis Munawir Aziz dalam bukunya. Darip dijebloskan ke penjara di Glodok dan bebas pada akhir 1949.

Menurut Cribb, sebagai jawara asal Klender, Darip pernah bekerja sama  dengan Kiai Noer Ali, yang menguasai kawasan rawa-rawa utara Bekasi. Haji Darip adalah sekutu yang menguntungkan karena telah menerima kiriman senjata dari pemimpin revolusi fisik di Jawa Timur, Dr Mustopo, sebagai kontribusi  terhadap perjuangan di Jakarta.

Noer Ali, yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai pahlawan Nasional pada 2006, orang tuanya berasal dari Klender. Menurut sejarawan Bekasi, AliAnwar selain mendirikan pondok Pesantren At-Taqwa di Bekasi, pada masa revolusi Noer Ali bersama Jendral Oerip Soemoharjo terlibat dalam pembentukan laskar Hizbullah Sabilillah Jakarta Raya. Dia juga memimpin pertempuran melawan Belanda di  Pondok Ungu, Bekasi, pada 29 September 1945.

Saat kembali datang dengan mendompleng tentara sekutu, Noer Ali tampil memimpin gerilya laskar rakyat Bekasi Hizbullah di Karawang dan Bekasi. 1947 - 1948  Kiai Noer Ali juga yang memprovokasi Belanda dengan mengerahkan rakyat untuk mengibarkan bendera merah putih di Rawa Gede. Belanda marah dan membantai ratusan warga setempat, tapi akibatnya dunia marah pada Belanda.

Kisah-kisah kesaktian Pejuang

Berpuluh-puluh tahun silam, ketika republik ini baru saja  berdiri. Tentara Belanda  yang membonceng tentara  sekutu berupaya menancapkan lagi  kukunya di Indonesia, melihat upaya  yang dilakukan pihak  Belanda ini, segenap lapisan rakyat  yang terpanggil dengan  segera turun ke medan laga untuk  turut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Meski mereka sadar persenjataan yang dimiliki kalah modern dengan persenjataan milik pihak Belanda. Namun hal ini tidaklah menjadi kendala. Dengan bersenjatakan bambu runcing dan berbagai pusaka peninggalan leluhur seperti keris, kelewang, tombak dan pedang, mereka siap mempertaruhkan jiwa dan raga agar kemerdekaan Indonesia tetap terjaga.

Kesadaran akan 'kalah' dalam segi persenjataan ini juga membuat para pejuang kemerdekaan menempuh lelaku khusus untuk mendapat kesaktian. Diantaranya adalah dengan berguru kepada orang pintar, memakai rajah yang dibuat para Kiai sepuh dan bertirakat di tempat khusus agar kesaktian bisa menyatu dengan raganya. Tentang laku yang dilakukan oleh para pejuang ini kebanyakan hidup dalam cerita tutur dan kesaksian langsung dari para pelakunya. beberapa kisahnya adalah sebagai berikut.

Dalam suatu malam, lebih dari separuh abad yang lalu, di sebuah daerah di Cianjur Atjep Abidin (90), dengan kondisi setengah telanjang, duduk bersila di atas batu besar yang letaknya tidak begitu jauh dari air terjun. Sementara itu, tidak jauh dari tempat duduknya, seorang lelaki yang usianya nampak lebih sepuh darinya nampak sedang komat-kamit, merapalinya dengan sebuah mantra yang diucapkan dengan menggunakan bahasa sunda lama. lelaki yang tengah merapalinya dengan mantra itu adalah gurunya. Saat itu, sesekali sang guru yang dikenal sebagai jawara pilih tanding di daerah itu menyirami tubuhnya dengan air bunga tujuh rupa.

Malam itu ia tengah dirapal dengan ajian halimunan. Tujuannya adalah agar tubuhnya tidak terlihat saat bertempur melawan Belanda. Usai menjalani ritual di tempat itu Atjep lantas pulang ke kampungnya di Pasawahan, bergabung dengan kawan-kawannya di kelaskaran.

Dua hari kemudian, sang guru yang disebutnya bernama Bisri datang dan mengajaknya untuk sebuah tugas rahasia mengawasi pergerakan militer Belanda dari arah Nyalindung, Sukabumi, saat itu sore baru saja menjelang, saat mereka berjalan di pematang ladang, tiba-tiba serentetan bren gun menyalak. Tanpa ada komando, Atjep dan Bisri pun melepaskan jurus langkah seribu. Seolah tak mau kehilangan mangsa, serdadu-serdadu Belanda  itu pun mengejar. Sambil berteriak, mereka (para Belanda) melepaskan peluru secara membabi buta. Tembakan membabi buta itu diarahkan kepada para pribumi yang ditemuinya.

Saat nafasnya habis, ketika sampai di sebuah kebun, Bisri yang merupakan guru dari Atjep memberi perintah agar Atjep menghentikan langkah. Sang guru berbisik memerintahkan agar Atjep untuk merapalkan jangjawokan yang tempo hari ia "transfer" kepada lelaki berwajah keras tersebut. "Jangan panik, setelah selesai kamu cepat berlindung di balik pohon apapun" Perintah Bisri. Atjep mengangguk.

Posmo

Punya masalah hidup yang tak kunjung selesai? Temukan solusinya bersama Spiritualis Kondang Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma - Sobat Mistis Trans 7)

PRAKTEK DI 3 KOTA

Jakarta

Jl. Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan
Gedung Graha Krama Yudha
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB

Bandung (Pusat)

Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jl. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB

Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.

Banten

Jl. Ki Mudakkir, Link. Cigading, Cilegon - Banten.

Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.

Tlp/ Hp. 081296609372 (WhatssApp dan Telegram) dan 081910095431 (WhatsApp)

Wed, 22 Sep 2021 @16:14


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Artikel Terbaru
Produk Utama
Komentar Terbaru
Testimoni













Copyright © 2021 padepokanintisemesta.com · All Rights Reserved



Powered By sitekno