Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Ki Sukma
● online
Ki Sukma
● online
Halo, perkenalkan saya Ki Sukma
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Padepokan Inti Semesta Jasa Spiritual Terbaik & Terpercaya

Beranda » Blog » Kisah Sunan Kuning Menyebarkan Islam di Tulungagung Mengislamkan Penyembah Batu dan Pohon

Kisah Sunan Kuning Menyebarkan Islam di Tulungagung Mengislamkan Penyembah Batu dan Pohon

Diposting pada 6 January 2022 oleh Ki Sukma / Dilihat: 281 kali / Kategori:

Kisah Sunan Kuning Menyebarkan Islam di Tulungagung
Mengislamkan Penyembah Batu dan Pohon

Nama asli Sunan Kuning adalah Zainal Abidin berasal dari Jawa Tengah. Ketika usia muda nyantri dipondok Pesantren yang dipimpin Kiai Muhammad Besari, tokoh ulama yang cukup ternama dan disegani asal Jetis, Ponorogo, waktu itu ia mendapat tanah perdikan dari Sunan Pakubuwono II dari Keraton Surakarta.

Selama menjadi santri, termasuk santri yang memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Karena mampu menguasai ilmu agama islam secara menyeluruh mulai tafsir, hadis, Al-quran dan kitab-kitab kuning. Usai menuntut ilmu di kota Reog itu Sunan Kuning diberikan tugas atau amanat untuk menyebarkan agama Islam di daerah timur. Yakni Tulungagung dan sekitarnya, termasuk Blitar, dan kediri. Karena 3 daerah tersebut masih banyak yang belum memeluk agama Islam, mengingat dulunya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Kediri dan Majapahit.

Zainal Abidin diyakini menginjakkan kaki di Tulungagung sekitar tahun 1727 silam. Kedatangannya beliau dikuatkan oleh sumber dari buku sejarah dan Babat Tulungagung yang diterbitkan di oleh Pemkab Tulungagung. Perlu diketahui bahwa, sebelum desa Macanbang sepertisekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam mahluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

“Di daerah Tulungagung padwa waktu tersebut, masih hutan belantara, pohon-pohon besar masih banyak. Sehingga memungkinkan untuk warga mengkeramatkan hingga melakukan penyembuhan. Hal itulah yang memicu hati Sunan Kuning untuk meluruskan, “ungkap Kiai Suud salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatah Tulungagung.

Kedatangannya di Tulungagung Zaenal Abidin diikuti santri-santrinya mengajarkan kepada warga Tulungagung dan sekitar, untuk memeluk agama Islam secara utuh. Tetapi ada saja halangan. Termasuk hinaan atau dipandang miring dari masyarakat yang belum memeluk agama Islam. Bahkan ada penentangan secara halus.

Halangan dan Hinaan tidak membuat Sunan Kuning menyerah begitu saja. Ia tetap terus menyebarkan agama Islam ditengah-tengah masyarakat yang masih menyembah batu dan pohon. Model dakwahnya dengan cara-cara yang santun. Lebih banyak memberikan contoh daripada berbicara. Kalau berbicara hanya dengan santri-santrinya yang belajar kepadanya. Tidak ada cacian maupun hujatan kepada pemeluk agama dan kepercayaan lain. Hingga akhirnya banyak umat Islam yang memeluk agama Islam.

Setelah banyak pengikutnya, Sunan Kuning mendirikan sebuah masjid untuk kegiatan belajar agama Islam dan shalat berjamaah. Saat itu pula kondisi umat Islam mulai tertata dan tidak ada yang menghalangi di daerah Bonorowo waktu itu. Masjid Macanbang sendiri dibangun tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo, Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid zaman kerajaan Demak.

Dulu, di depan masjid terdapat kubahan batu besar yang menyerupai kolam. Bahkan, tembok-tembok pagar batu bata mirip batu candi yang berukuran besar. Tembok pagar tersebut hingga kini masih berdiri dengan kokoh. Sementara kubangan kini telah tiada.

Di Masjid, juga terdapat beberapa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar untuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, untuk mimbar tempat berkhotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asing lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Selama sekian tahun berdakwah di Tulungagung akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di belakang masjid. di Dusun Krajan, Desa Macanbang, Kecamatan Gondang Tulungagung.

Makamnya

Makam Sunan Kuning dalam perkembangannya menjadi salah satu tempat yang ramai diziarahi. Terutama di malam Jumat Legi. Tak hanya dari Tulungagung dan sekitarnya, tetapi juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Maklum, Zainal Abidin konon berasal dari Jawa Tengah.

Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap  hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 suro. Para peziarah itu datang dari berbagai penjuru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Dikatakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah harus membungkuk untuk bisa  melewati pintu tersebut.

Posmo

Punya masalah hidup yang tak kunjung selesai? Temukan solusinya bersama Spiritualis Kondang Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma – Sobat Mistis Trans 7)

PRAKTEK DI 3 KOTA

Jakarta

Jl. Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan
Gedung Graha Krama Yudha
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB

Bandung (Pusat)

Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jl. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB

Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.

Banten

Jl. Ki Mudakkir, Link. Cigading, Cilegon – Banten.

Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.

Tlp/ Hp. 081296609372 (WhatssApp dan Telegram) dan 081910095431 (WhatsApp)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bagikan ke

Diposting oleh

Pangeran Sukma Jati Azmatkhan atau yang biasa dipanggil Ki Sukma adalah Pendiri sekaligus Guru Besar Padepokan Inti Semesta yang berlokasi di Bandung. Padepokan tersebut mengajarkan Ilmu Hikmah Spiritual dan Pencak Silat & Debus aliran Banten.

Kisah Sunan Kuning Menyebarkan Islam di Tulungagung Mengislamkan Penyembah Batu dan Pohon

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Kisah Sunan Kuning Menyebarkan Islam di Tulungagung Mengislamkan Penyembah Batu dan Pohon

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: